Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pemerintah Akan Buka Kebun Sawit di Perbatasan
Selasa, 28 Juni 2005 | 21:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Pertanian bersama sejumlah departemen lainnya telah membicarakan rencana pembukaan lahan perkebunan sawit di daerah perbatasan.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, pembicaraan itu antara lain dilakukan dengan Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah.

Daerah di perbatasan itu, di antaranya di Pulau Kalimantan dan Papua. "Untuk yang di Papua, baru ada moratoriumnya yang masuk tahap perencanaan," ujarnya di kantornya, Selasa (28/6).

Direktur Pengembangan Perkebunan Departemen Pertanian Udoro Kasih Anggoro menambahkan, daerah yang akan menjadi lahan perkebunan di perbatasan sementara ini baru di Kalimentan Barat seluas 241 ribu hektare. "Luas perkebunan di perbatasan totalnya 500 ribu hektare," ungkapnya.

Komoditas perkebunan yang akan ditanami di Kalimantan Barat misalnya kelapa sawit dan karet. Meliputi lima Kabupaten, yaitu Sanggau, Sintang, Sambas, Bengkayan, dan Kapuas Hulu.

Menurut Udoro, di lahan ini nantinya akan didirikan 21 unit pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam dan 22 unit pengolahan karet dengan kapasitas 20 ton karet kering per hari. Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp 5,48 triliun.

Dengan proyek itu, akan tersedia lapangan pekerjaan bagi sekitar 107 ribu tenaga kerja. Dari perkebunan ini pun akan dihasilkan 2,8 juta ton TBS setiap tahun atau setara dengan 554 ribu ton minyak sawit mentah dan produksi karet kering sebesar 132 ribu ton per tahun. "Penerimaan setiap tahun dari dua perkebunan ini sekitar Rp 2,7 triliun," ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Derom Bangun menyambut baik rencana pemerintah itu. "Kebun sawit memang bisa menjadi tempat yang layak untuk meningkatkan penghasilan," katanya. Buktinya, di daerah yang memiliki kebun sawit, tidak terjadi kelaparan atau busung lapar.

Namun, Derom mengingatkan, lahan yang akan dijadikan kebun sawit tidak berasal dari lahan hutan bernilai tinggi. "Misalnya hutan yang menjadi sumber cadangan air dan memiliki satwa langka."
rini kustiani


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

GAPPRI Patok Harga Cengkeh Rp 30 Ribu/Kg
Kopi Petik Merah di Lampung
Lonsum Rugi Gara-gara Restrukturisasi Hutang
Serikat Pekerja Perkebunan Tolak Pembentukan Holding Company


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Anthony Zeidra Abidin Mengakui Terima Uang
Wakil Presiden: Rangkap Jabatan Melanggar Kepatutan
Siaga Lebaran, Polres Cianjur Terjunkan 1.096 Personel
Hamka Yandhu dan Anthony Diancam 20 Tahun Penjara
Pemerintah Diminta Segera Antisipasi Kenaikan Harga

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data