Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Berbagai Kalangan Pertanyakan Bagi Hasil Cepu
Selasa, 28 Juni 2005 | 02:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia Petroleum Association (IPA) mempertanyakan pola bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor (Pertamina, ExxonMobil Oil Indonesia, dan pemerintah daerah) di Blok Cepu.

Alasannya, ada perbedaan antara split kontrak bagi hasil standar dan yang diterapkan di ladang migas yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.

Direktur Eksekutif IPA Suyitno Patmosukismo mengatakan, masalah split itu akan dipertanyakan kepada pemerintah. Apakah hal itu suatu kasus atau ada kecenderungan pemerintah untuk melakukan perubahan. "Bila memang ada kecenderungan perubahan, akan kami pelajari," ujarnya di Jakarta.

Pekan lalu tim negosiasi Pertamina yang diketuai tim perunding Pertamina, Martiono Hadianto, dan ketua tim negosiasi Exxon, Steve Greenlee, telah menandatangani perjanjian prinsip pengelolaan Blok Cepu.

Kedua belah pihak menyepakati pola kombinasi (adjusted split), yaitu gabungan antara bagi hasil dan participating interest (kepemilikan) dengan harga minyak dunia sebagai patokan. Pola itu merupakan yang pertama kali di Indonesia.

Umumnya bagi hasil yang diterapkan dalam kontrak bagi hasil untuk minyak (production sharing contract) standar adalah 85 persen bagian pemerintah dan 15 persen bagian kontraktor. Sedangkan untuk gas 70 persen pemerintah dan 30 persen kontraktor.

Bagi hasil yang telah disepakati juga mendapatkan tanggapan beragam dari kalangan pengusaha migas. Presiden Direktur PT Caltex Pacific Indonesia Yudiana Ardiwinata menilai bagi hasil tersebut lebih fleksibel. Caltex juga akan mempelajari lebih jauh apakah pola itu lebih menguntungkan perusahaan minyak atau sebaliknya.

Michael D. Smith, Kepala Bidang Analisis Energi dari Unit Ekonomi BP Plc. mengatakan, ide pola bagi hasil yang merupakan penggabungan antara participating interest dan bagi hasil cukup bagus. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah ide baru ini akan lebih menarik bagi investor. "Kami tidak tahu seberapa menariknya bagi perusahaan minyak," katanya.

Presiden Direktur BP Indonesia Anne Waterdrink menyambut baik tercapainya kesepahaman antara tim Pertamina dan ExxonMobil. "Variasi bagi hasil yang didasarkan pada harga minyak merupakan pemecahan masalah yang baik," katanya.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Kardaya Warnika menjelaskan, pola bagi hasil baru dalam perpanjangan kontrak Cepu tidak serta-merta dapat diterapkan terhadap kontrak lainnya. "Kontrak yang lalu harus tetap dihormati," kata dia.

Ia menambahkan, kemungkinan perubahan kontrak selalu ada. Tapi untuk mengubah perlu ada kesepakatan kedua pihak. "Kalau mereka minta tapi kami tidak setuju, ya tidak jadi," ujarnya.

Mengenai siapa yang diuntungkan dengan adanya kontrak baru tersebut dapat dilihat dari seberapa besar keuntungan (uang) yang diterima, baik dari perusahaan maupun pemerintah. "Dalam UU itu, masalah bagi hasil tidak diatur. Yang penting memberi keuntungan sebesar-besarnya bagi negara."

Retno Sulistyowati/Muhamad Fasabeni - Tempo




Dari Arsip Majalah TEMPO
Lobi dari Houston  | 17 November 2003
Bisnis Sepekan  | 27 Oktober 2003
Berkorbanlah, Pupuk Kaltim  | 22 Maret 2004
Bisnis Sepekan  | 11 Agustus 2003
Bisnis Sepekan | 08 Maret 2004
Megap-megap karena Gas  | 26 Januari 2004
Produksi Gas Kritis  | 12 Januari 2004
Langkah Terakhir ke Cepu  | 12 Mei 2003
Senyampang Belum Terlambat | 06 September 2004
Lagi, Pekerja Exxon Diculik  | 25 November 2002
>>selengkapnya ::

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Pengeboran minyak di pertambangan minyak Exxon Mobil, Bojonegoro, 23 Februari 2001 [TEMPO/ Mahanizar; 32D/273/2000; 20010406].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20010506-004, 20010506-125 Tenaga kerja asing di sumur minyak/ pengeboran minyak di pertambangan minyak Exxon Mobil, Bojonegoro, 23 Februari 2001. [TEMPO/ Mahanizar; 32D/274/2000; 20010406].
Pengeboran Minyak Exxon di Bojonegoro
Pengeboran Minyak Exxon
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Exxon Cepu Dapat 13,5 Persen
Aburizal Isyaratkan Perpanjang Kontrak ExxonMobil
Aburizal: Kesepakatan Pertamina-Exxon Terlalu Kecil
Pemerintah Minta 3 Syarat Perpanjangan Kontrak Exxon di Natuna
ExxonMobil Berharap Negosiasi Dengan Pertamina Berjalan Baik
Presiden Janji Bahas di Sidang Kabinet
Dari Aceh Temui Presiden
Presiden Bush Minta Indonesia Efektifkan Kontrak-Kontak Migas
Sejumlah Warga Mendemo Exxon Mobil
Pertamina Gelar Pertemuan dengan ExxonMobil
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data