|
Indonesia Tak akan Dikeluarkan dari OPEC
Rabu, 22 Juni 2005 | 13:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia akan tetap menjadi anggota Organisasi Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) meskipun saat ini telah berstatus negara pengimpor minyak (net importer).
Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman mengatakan, saat sidang OPEC ke-136 pada 15 Juni lalu, Presiden OPEC Sheikh Ahmad Fahad Al Ahmad Al Sabah menegaskan, Indonesia tetap menjadi anggota OPEC.
?Dalam anggaran dasar OPEC tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa jika telah menjadi net importer akan dikeluarkan dari OPEC,? katanya di Jakarta, Rabu (22/6).
Maizar menjelaskan, status keanggotan OPEC terbagi menjadi tiga kategori, yaitu anggota pendiri OPEC, anggota penuh (status Indonesia saat ini), dan anggota biasa.
Bab C Anggaran Dasar menyebutkan, status keanggotan penuh tidak berkaitan dengan jumlah produksi minyak suatu negara. Faktor produksi minyak baru menjadi salah satu persyaratan, apabila suatu negara akan ditingkatkan statusnya dari anggota biasa menjadi anggota penuh.
"Saat ini Indonesia sudah full member," tuturnya. "Maka akan tetap menjadi anggota OPEC."
Maizar mengakui, sebagai anggota OPEC, Indonesia setiap tahunnya harus membayar iuran sebesar US$ 2 juta (sekitar Rp 19 miliar). Meski begitu, kata dia, manfaat sebagai anggota OPEC tetap lebih besar ketimbang keluar dari keanggotaan.
Ia mencontohkan, selama ini OPEC telah melakukan berbagai penelitian minyak dan menghabiskan biaya sekitar US$ 10 juta. Sebagai anggota OPEC, Indonesia dapat memanfaatkan hasil penelitian tersebut. ?Kalau kita keluar dari OPEC dan membuat penelitian sendiri, biayanya akan jauh lebih besar,? katanya.
Bambang Dwiyanto, staf ahli menteri bidang informasi dan komunikasi, mengatakan, Presiden OPEC telah mengirimkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.
Dalam surat itu dinyatakan bahwa status Indonesia masih sebagai anggota OPEC. Isi surat itu sekaligus membantah sinyalemen bahwa Indonesia akan dikeluarkan dari OPEC.
Bambang juga menjelaskan, salah satu kesimpulan dari pertemuan di Bali yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri pada 10-11 Juni lalu menegaskan bahwa Indonesia sebaiknya masih tetap berada dalam OPEC, sambil berupaya meningkatkan produksi minyaknya.
muhamad fasabeni
INDEKS BERITA LAINNYA :
|