Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengusaha Tolak Biaya Label Halal
Rabu, 15 Juni 2005 | 15:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kalangan pengusaha menolak beban biaya labelisasi halal yang wajib dicantumkan dalam setiap produk makanan dan minuman.

"Ongkos produksi akan sangat mahal," kata Ketua Forum Komunikasi Pangan Indonesia Suroso Natakusumah dalam diskusi Kontroversi Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal di Jakarta, Rabu (15/6).

Rancangan Jaminan Halal itu kini sedang digodok DPR. Dalam salah satu pasalnya disebutkan pengusaha yang telah memperoleh sertifikat halal wajib mengeluarkan biaya tanda halal dalam produknya. Menurut Suroso, beban biaya itu mengada-ada.

Menurut dia, beban biaya itu seharusnya dihilangkan bagi para pengusaha yang sudah memperoleh sertifikat halal. "Ini akan mengganggu perekonomian," kata dia.

Pasalnya, dalam rancangan itu disebutkan beban biaya halal dimasukan dalam harga setiap produk. Produsen juga diwajibkan melaporkan jumlah unit barang yang akan diproduksi ke Departemen Agama.

Suroso menilai ketentuan ini akan menjadi beban tambahan bagi konsumen karena memicu kenaikan harga. Bagi produsen sendiri akan merugikan karena akan menurunkan daya saing produk. "Pengawasannya juga akan sulit," katanya.

Menanggapi keberatan itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengatakan jika beban biaya itu masih dalam batas wajar tidak akan menjadi beban. Biaya labelisasi halal itu juga akan dipakai pemerintah untuk pengawasan label halal jika dipalsukan. Majelis, kata Ma'ruf, tidak akan menyetujui rancangan itu jika biaya yang dibebankan terlampau tinggi.

Menurut Ma'ruf, Majelis mendukung rancangan inisiatif DPR itu untuk mengatur lebih detail soal labelisasi halal yang selama ini dinilainya masih terlalu umum. "Untuk melindungi umat," kata dia.

Rinaldi Dorasman

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
SUASANA KONGRES UMAT ISLAM INDONESIA DI MASJID ISTIQLAL. [ RULLY KESUMA;25D/163/98;981105 ] KONGRES UMAT ISLAM INDONESIA DI MASJID ISTIQLAL; WAKIL DARI ACEH. [ RULLY KESUMA; 25D/163/98; 981105 ]
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Dituding Sesat MUI, YKCNA Minta Perlindungan LBH
MUI Minta Pemerintah Proporsional Tangani Aliran Sesat
Gus Dur Diminta Menjadi Penengah
Shalat Berbahasa Indonesia di Surabaya
Kongres Umat Islam IV tak Libatkan Parpol
MUI Identifikasi Ulang Praktik Aliran Sesat
MUI Umumkan BreadTalk dan Hoka Hoka Bento Subhat
MUI Minta Penyandera Lepaskan Wartawan Metro TV Segera
DPR akan Jadikan Fatwa MUI tentang TKW sebagai Rekomendasi Kebijakan Tenaga Kerja
MUI: Makanan Bantuan Boleh Dimakan
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No.69 Thn.1999 Tentang Label Dan Iklan Pangan

Website

Majelis Ulama Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Pagi Ini, Rusia Angkat Kaki dari Georgia
Saham di Bursaa Jepang Sesi Pagi Turun 0,67 Persen
Bush Tuntut Rusia Segera Keluar dari Georgia
Penyerang Kroasia Mulai Berlatih di Persiba
Australia: Indonesia dan Australia Akan Memperoleh Keuntungan dari Perdagangan Bebas

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data