Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pasar Obligasi Negara Belum Likuid
Rabu, 15 Juni 2005 | 13:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin mengatakan pasar surat utang negara masih belum likuid di banding negara-negara Asia.

Seretnya pasar obligasi itu terlihat dari rasio tingkat penjualan yang hanya 1,31 pada tahun 2004. "Dibanding negara Asia lainnya, rasio ini sangat kecil," kata Aslim saat meresmikan perjanjian induk pembelian kembali obligasi (Master Repurchase Agreement) di Departemen Keuangan, Rabu (15/6).

Rasio penjualan obligasi di Singapura, kata Aslim, mencapai 3,15, Jepang 5,38, Thailand 2,03 dan Malaysia 1,82. Pasar repo obligasi juga belum berkembang.

Selama periode Januari-Mei 2005, jumlah transaksi repo hanya tiga persen dari total transaksi obligasi di pasar sekunder. Di negara-negara maju, kata Aslim, transaksi repo mencapai 10-40 persen dari total volume perdagangan.

Dengan diresmikannya implementasi perjanjian induk transaksi repo ini, Aslim berharap likuiditas pasar sekunder obligasi meningkat. Sebab, transaksi repo bisa memperpendak jangka waktu obligasi yang diperdagangkan.

Untuk tahap awal, lima bank anggota Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara telah meneken perjanjian induk ini. Kelimanya adalah Bank Mandiri, Bank Danamon, Bank Permata, Deutsche Bank dan Standard-Chartered Bank. MRA memuat aturan yang harus diikuti oleh pelaku transaksi repo ini.

Perhimpunan memiliki anggota yang terdiri dari 14 bank lokal, enam bank sasing dan empat perusahaan sekuritas. Menurut Direktur Eksekutif Perhimpunan Yudhi Ismail, anggota lainnya akan segera mengikuti perjanjian ini.

Menurut Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Darmin Nasution, perjanjian induk transaksi repo ini baru memfasilitasi bank saja. "Di luar bank masih terganjal masalah akuntansi," kata dia. Fanny Febiana

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Menteri Keuangan Boediono dalam rapat dengar pendapat umum dengan anggota Komisi IX DPR membahas masalah penutupan Bank Dagang Bali (BDB) dan Asiatic di Gedung MPR/ DPR, Jakarta,  27 April 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040416] Menteri Keuangan Boediono dalam rapat dengar pendapat umum dengan anggota Komisi IX DPR membahas masalah penutupan Bank Dagang Bali (BDB) dan Asiatic di Gedung MPR/ DPR, Jakarta,  27 April 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040416]
Boediono
Boediono

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Quick Count di Pilkada Sulawesi Utara
Lelang Obligasi Negara Serap Rp 3,85 Triliun
DPR Pertimbangkan Tambahan Subsidi Pupuk
Pemerintah Terbitkan Dua Seri Obligasi
Pemerintah Akan Hapus Piutang Macet
Bank Lampung Terbitkan Obligasi Rp 200 Miliar
Asumsi Harga Minyak di APBN-P Menjadi US$ 40-45 per Barel
Obyek dan Subyek Pajak Daerah Akan Diperluas
Dirjen Bea Cukai : Produsen Rokok Menerima Kenaikan
Piutang Macet Rp 10,24 Triliun Didesak Dieksekusi
> selengkapnya...


Referensi

Perjalanan BPPN dari Waktu ke Waktu
Status Pengutang BPPN
Profil Iwan Prawiranata
Profil Glen Yusuf
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 16 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Tim Pemberesan Badan Penyehatan Perbankan Nasional
Keppres RI No. 3 Tahun 2004 Tentang Sistem Kepegawaian Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
> selengkapnya...

Website

Departemen Keuangan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data