|
Data BPS Cenderung di Bawah Perkiraan
Jum'at, 03 Juni 2005 | 19:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Staf Khusus Menko Perekonomian M. Ikhsan mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) cenderung di bawah perkiraan atau underestimate dan kurang akurat. Hal itu terkait dengan rendahnya anggaran BPS dan lemahnya pengawasan internal.
"Sering kali saat digunakan membuat tabel input-output, data BPS cenderung di bawah perkiraan. Akibatnya, data kurang akurat," kata Ikhsan pada wartawan di Gedung Depkeu, Jum'at (3/6).
Menurutnya, kekurangakuratan data BPS juga berdampak pada perencanaan kebijakan yang kacau, terutama di sektor listrik. Contohnya, BPS mencatat kebutuhan masyarakat atas listrik masih rendah. Namun, kenyataannya tambahan kapasitas PLN selalu habis terpakai. Daftar tunggu PLN juga panjang sekali. "Ini berarti kebutuhan PLN di tingkat bawah masih tinggi. Akibatnya, jika seharusnya kita menyediakan 100 MW, kita hanya sedia 80 MW. Perencanaan jadi tidak bagus karena data acuannya kurang baik," ucapnya.
Ia menyarankan, kinerja BPS diperbaiki melalui memperbaiki anggaran BPS dan memperkuat pengawasan internal. Dalam APBN, setiap kuisioner yang diperiksa hanya dianggarkan Rp 10 per lembar kuesioner. "Pengerjaannya jadi sembarangan," katanya.
Belakangan data BPS kerap diragukan validitasnya. Bermula dari opini ekonom Tim Indonesia Bangkit yang menilai catatan BPS soal angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2005 (year on year) 6,35 persen tidak tepat. Menurut angggota Tim Indonesia Bangkit Dradjat H Wibowo, kinerja ekonomi selama pemerintahan SBY-JK justru melambat.
Terkait hal itu, Kepala BPS Choiril Maksum sempat menyatakan, perbedaan perhitungan atau interpretasi kemungkinan besar disebabkan perbedaan penggunaan tahun dasar sebagai basis analisis. "Saya sudah minta pada staf memeriksanya, terutama soal asumsi tahun dasar yang digunakan. Beda tahun dasar, beda juga hasil perhitungannya. Kami pakai tahun 2000 sebagai tahun dasar," jelasnya, Selasa (1/6).
Choiril menegaskan pihaknya tidak main-main atau memanipulasi data dengan sengaja. Untuk itu, BPS siap dipanggil kapan saja oleh DPR. "Kami juga selalu melaporkan secara resmi setiap hasil perhitungan dan analisa yang kami lakukan kepada semua instansi, dari mulai presiden sampai menteri," katanya. thoso priharnowo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|