Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Subsidi Pupuk APBN 2005 Rp 1,3 Triliun
Senin, 30 Mei 2005 | 19:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Pertanian Anton Apriyantono, menyatakan pengawasan terhadap distribusi pupuk harusnya dilakukan oleh Departemen Perdagangan. "Departemen Pertanian juga punya tim pengawas, tapi Departemen Perdagangan yang harusnya bertanggung jawab,"ujar Anton di Jakarta, Senin (30/5).

Menurut Menteri Anton, Departemen Pertanian telah mengusahakan pemberian subsidi pupuk yang sudah masuk dalam APBN 2005 sebesar Rp. 1,3 triliun. "Jumlah itu, sudah disetujui,"katanya.

Selain itu, Deptan juga meminta tambahan subsidi sebesar Rp 500 miliar yang masuk dalam APBN-P 2005. "Dana ini ada kaitannya dengan dana kompensasi BBM,"ujar Anton. Pengelolaan dana subsidi pupuk ini diserahkan sepenuhnya pada Departemen Keuangan.

Sementara itu, menanggapi keluhan petani yang merasa kesulitan pasokan pupuk, Direktur Jenderal Bina Sarana Pertanian Ato Suprapto, menyangkal keluhan tersebut. "Saya sudah cek, nggak ada masalah soal pasokan pupuk Urea,"ujarnya.

Namun, Ato mengakui memang ada keterbatasan produksi pupuk, khususnya jenis SP 36. "SP 36 ini jumlahnya terbatas karena sebelumnya tidak masuk dalam rangkaian subsidi pupuk,kata Ato. Setelah itu, Menteri Pertanian meminta supaya SP 36 masuk dalam jenis pupuk yang diberi subsidi.

Untuk sementara, subsidi pupuk jenis SP 36 ini ditalangi oleh PT Petro Kimia sebesar Rp 100 miliar, sejak Januari 2005 sampai dengan Mei 2005. "Kami sedang mengusahakan supaya dana subsidi dari Petro Kimia ini diganti oleh Departemen Keuangan,"kata Ato.

Rini Kustiani

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Petani menebar pupuk di sawah, 1997. [Dok TEMPO; R2A/083/97; 2000/05/31].<br>Dimuat majalah TEMPO 20000611-088 Ibu-ibu petani menjemur jagung yang akan dijadikan bibit di Ciampea, Bogor, 2 Mei 2001. [TEMPO/ Arie Basuki; K1A/272/2001; 20010519].
Petani
Jagung
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tiga Negara Timur Tengah Minati Sektor Agribisnis Indonesia
Departemen Pertanian Ajukan Pinjaman ke IDB
Tanam Lebih Satu Jenis, Pertanda Petani Panik
HKTI Siap Ikut Distribusikan Pupuk
Deptan Upayakan Perluasan Areal Tanam
Faisal Basri : Ilmu Doktor Yudhoyono Tak Diamalkan
Menteri Pertanian Tandatangani MoU dengan Republik Fiji
Deptan Akan Tambah Tenaga Penyuluh
Deptan Adakan Kerja Sama Pembiayaan Kredit Syariah
Harga Gula Rp 3.800 per Kg
> selengkapnya...


Referensi

Anthrax
Flu Burung
PP RI No. 14 Tahun 2004 Tentang Syariat dan Tata Cara Pengalihan Perlindungan Varietas Tanaman dan Penggunaan Varietas Yang Di Lindungi Oleh Pemerintah
PP RI No. 13 Tahun 2004 Tentang Penanaman, Pendapatan dan Penggunaan Varietas Asal Untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial
PP RI No.1 Thn.1980 Tentang Ketentuan Penanaman Papaver, Koka, Dan Ganja
Daerah Endemis Antrax di Indonesia
> selengkapnya...

Website

Departemen Pertanian


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Bupati Purworejo: Presiden Tak Promosi Super Toy
Persija Fokus, Bambang Nurdiansyah Gamang
Bank Jabar Ditargetkan Salurkan Kredit Tanpa Agunan
Pemenang Tender Diwajibkan Menaruh Jaminan
Honda Akan Luncurkan Honda Insight

<< May,2005>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data