|
Ekonomi
Obiligasi Negara Tak Lagi Menarik
Rabu, 18 Mei 2005 | 04:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Minimnya kelebihan penawaran (oversubscribe) pada lelang obligasi negara seri FR 0029 dan FR 0030 kemarin menunjukkan Surat Utang Negara tak lagi menarik bagi pasar.
Total penawaran yang masuk hanya Rp 7,6 triliun untuk kedua seri tersebut. Pemerintah pun hanya mengambil Rp 4,65 triliun, dengan perincian Rp 2,1 triliun untuk FR 0029 dan Rp 2,55 untuk FR 0030.
"Ini menunjukkan kelebihan likuiditas sekarang kebanyakan terserap di Sertifikat Bank Indonesia. Pasar sedang menunggu kenaikan bunga SBI," kata ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk. Ferry Latuhihin kepada Tempo menanggapi hasil lelang obligasi negara kemarin. "Artinya pasar lebih minat ke SBI daripada investasi di Surat Utang Negara."
Dia mengatakan, surat utang negara tak lagi menarik lantaran Bank Indonesia hingga kini masih terus mengeluarkan pernyataan akan menaikkan suku bunga SBI. "Dengan begitu, pasar menunggu return yang lebih tinggi (dari SUN)."
Hasil penjualan obligasi negara akan digunakan untuk menambal defisit anggaran. Tahun ini pemerintah merencanakan penawaran Surat Utang Negara hingga Rp 43 triliun untuk menutup defisit Rp 19,5 triliun.
Namun, Dirjen Perbendaharaan Negara Mulia Nasution memastikan bahwa kondisi arus kas pemerintah masih surplus saat ini.
Total obligasi yang telah dilelang pemerintah tahun ini menjadi Rp 24 triliun, sehingga masih ada sisa Rp 19 triliun.
Mulia optimistis, target penawaran obligasi Rp 43 triliun hingga akhir tahun bisa tercapai. "Penerbitannya akan diatur supaya tidak menumpuk di pengujung tahun," katanya.
Obligasi seri FR 0029 memberikan imbal hasil (yield) 9,71 persen dengan masa jatuh tempo 15 April 2007. Seri ini memiliki tingkat kupon 9,5 persen yang dibayarkan setiap 15 April dan 15 Oktober.
Sedangkan seri FR 0030 memberi yield 11,29 persen, dan masa jatuh tempo 15 Mei 2016. Obligasi ini memiliki tingkat kupon 10,75 persen yang dibayarkan 15 Mei dan 15 November.
"Yield dua seri ini sudah bagus. Menggambarkan pasar," kata Mulia.
Lebih lanjut, Ferry menuturkan, tidak ada alasan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga. Pasalnya, inflasi sudah kembali normal. Di sisi lain, kenaikan bunga SBI pun tidak akan memulihkan pelemahan rupiah.
Rr Ariyani/Thoso Priharnowo - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|