|
Ekonomi Bisnis
Belanda Danai Proyek Kabupaten, 1 Juta Euro
Rabu, 11 Mei 2005 | 17:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perwakilan dari Kedutaan Belanda di Indonesia H.E. Rudolf Jan Treffers, menyatakan, Kementerian Kerjasama Pembangunan Belanda akan mendanai program kemitraan dari Kabupaten-Kabupaten di Kalimantan Menuju Pasar Global sebesar 1 Juta Euro setiap tahun selama 5 tahun ke depan. "Kami menginginkan adanya aksi yang kuat, tidak hanya bicara,"kata Rudolf di Hilton, Rabu (11/5).
Peluncuran pertama program kemitraan ini dilakukan oleh Vice Chairman World Wide Forest (WWF) Indonesia Arifin M. Siregar, Koordinator Good Forest Governance Tropenbos Internasional Alfan Subekti, dan Wakil dari Centre for International Forest Research (CIFOR) David, serta wakil Kedutaan Belanda di Indonesia H.E. Rudolf Jan Treffers.
Menurut Koordinator Kemitraan WWF Indonesia, Anwar, kabupaten yang akan digandeng dalam program ini, antara lain Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Pasir dan Kabupaten Malinau. Selain itu, perusahaan yang akan diajak bekerjasama adalah pengusaha yang telah memiliki sertifikasi HPH. "Ada 270 pemilik HPH (Hak Pengelolaan Hutan), dan 63 persennya berada di wilayah Kalimantan," kata Anwar.
Saat ini, terdapat 10 pemegang HPH dan satu industri kehutanan yang telah bergabung dalam program kemitraan ini. "Kerjasama ini akan dievaluasi tiap satu tahun untuk menjaga kelanjutannya,"ujar Anwar.
Selain membangun kemitraan antara pengelola hutan dan industri perkayuan, program ini juga membantu pengusaha dalam menjaring pasar lokal maupun internasional. "Kami akan memprioritaskan kebutuhan domestik, setelah itu baru ekspansi keluar dengan jaringan pasar yang telah dimiliki WWF,” kata Anwar. Pasar internasional yang akan dijajaki, antara lain Eropa, Amerika dan Australia. Mengenai komoditi kehutanan yang akan dipasarkan, Anwar mengatakan, untuk sementara ini akan dititikberatkan pada jenis kayu meranti.
Selain itu, kerjasama dengan Departemen Kehutanan tetap dijalin dengan memberikan insentif kepada pengusaha HPH, misalnya dengan cara membebaskan kuota tebangan yang awalnya hanya 5,3 juta meter kubik per tahun.
Rini Kustiani
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|