Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Pertamina Ikut Guncang Rupiah
Rabu, 27 April 2005 | 19:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tingginya pembelian dolar oleh Pertamina perlu disikapi dengan perumusan kebijakan khusus. Jika tidak, akan terus menggoncang pasar valuta asing.

Menteri negara BUMN Sugiharto mengakui ketimpangan antara permintaan dan penyediaan dolar di pasar akibat pembelian dolar oleh Pertamina telah menyebabkan melemahnya nilai tukar. "Pembelian dolar terbesar oleh Pertamina rupiah tiap hari sebanyak US$ 50 juta di pasar yang volume perdagangan hanya sebesar US$ 200-300 juta jelas telah menimbulkan distorsi,"ujarnya, Rabu (27/4) di Hotel Shangrila, Jakarta.

Dalam UU Migas sebelum revisi, seluruh hasil ekspor, termasuk minyak oleh Pertamina, masuk ke pemerintah. "Dan Pertamina bisa dapat devisa untuk mengimpor BBM,"kata Sugiharto.

Sedangkan berdasar UU Migas yang telah direvisi, Pertamina menjual migas pasa masyarakat dengan rupiah. Lalu rupiah itu digunakan untuk membeli dolar di pasar uang. "Sehingga memberi distorsi pada trading (perdagangan) di pasar uang,"katanya.

Sugiharto mengusulkan hasil ekspor minyak mentah oleh Pertamina masuk ke Bank Indonesia. "Alangkah adilnya jika Pertamina mengekspor crude oil, uangnya masuk ke BI. Kemudian (Pertamina) dibolehkan mengambil devisa untuk impor,"katanya.

Sugiharto menyatakan hari ini akan bertemu dengan Gubernur BI untuk memformulasikan kebijakan agar Pertamina mendapat jatah langsung devisa dari BI. "Tidak lagi melalui pasar,"katanya.

Staf ahli Menteri BUMN, Lin Che Wei membenarkan siang ini ada pembahasan antara Menteri BUMN dan Gubernur BI, agar ke depan tidak lagi distorsi pasar akibat permintaan dolar oleh Pertamina. "Bukan berarti ingin mempengaruhi kebijakan mata uang, tapi jangan sampai BUMN menyebabkan distorsi mata uang,"kata Che Wei.

Rr.Ariyani

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Oli Mesran Kaleng, Jakarta,  9 Juni 2000. [TEMPO/ Robin Ong; 30d/116/2000; 2000/06/22]. Direktur Bank Indonesia (BI), Hendro Budiyanto pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di gedung MPR/DPR, Jakarta, 1993. [TEMPO/ Rully Kesuma; 15D/210/1993; 20021001].
Oli Mesran
Hendro Budiyanto
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Meneg BUMN : Kredit Macet Bank Mandiri Tak Berpengaruh
Pemerintah Bahas Kebutuhan Dolar Pertamina
Reksadana Juga Perlu Jaring Pengaman
Pebisnis Khawatirkan Pelemahan Rupiah
BI Naikkan Suku Bunga Sampai 25 Point
Meneg BUMN Segera Panggil Komisaris Bank Mandiri
Menteri BUMN Bicarakan Status Direksi Bank Mandiri
Menteri BUMN : Direksi Bank Mandiri Diganti 16 Mei
Menteri BUMN : Inventarisir Kredit Bermasalah Bank Mandiri
DPRD Depok Minta Pembangunan SPBU Dihentikan
> selengkapnya...


Referensi

Kasus Korupsi Prioritas Kerja 100 Hari Polri
Profil Miranda Swaray Goeltom
Profil Burhanuddin Abdullah
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 1 Tahun 2004 Tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
PP RI No. 47 Tahun 2001 Tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 17 Tahun 1999 Tentang Badan PenyehatanPerbankan Nasional
> selengkapnya...

Website

Bank Indonesia
Kementerian BUMN
Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (Perum PPD)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data