|
Bank Indonesia : SBI Sengaja Dinaikkan di Awal Tahun
Senin, 25 April 2005 | 17:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menyatakan kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di awal tahun sudah direncanakan sebelumnya.
“Dengan harapan ke belakang (akhir tahun) tidak perlu kenaikan yang cukup besar. Istilahnya front loading (di awal tahun),” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/4).
Menurut dia, sebetulnya bank sentral bisa menaikkan suku bunga SBI di akhir tahun. “Bisa juga di depan (awal tahun) kenaikannya kecil dengan ekspektasi bulan ke sana (ke depan) dapat ditahan (kecil),” tuturnya.
Namun Bank Indonesia, kata Burhanuddin, lebih cenderung pada kebijakan kenaikan suku bunga SBI. “Kami lebih memilih di depan (SBI di awal tahun) yang besar, supaya cukup waktu bagi kita untuk melihat perkembangan pada bulan-bulan yang akan datang,” jelasnya.
Lebih jauh Burhanuddin mengungkapkan, kebijakan menaikkan SBI yang cukup besar dapat ditanggapi positif oleh pasar. “Kami berharap di depan dengan menaikkan suku bunga yang cukup besar misalnya: 25, 20 atau 15 basis poin, tergantung bagaimana itu angka itu valid bagi masyarakat pelaku ekonomi atau tidak,” tuturnya.
Kenaikan SBI, menurut dia, juga menanggapi tingginya ekspektasi inflasi akhir-akhir ini. “Bank sentral perlu melakukan sesuatu. Salah satunya dengan meningkatkan SBI, menyerap likuiditas di pasar, untuk mengurangi kemampuan berspekulasi dan mempengaruhi konsumsi, investasi dan lain sebagainya,” jelasnya.
Walaupun angka inflasi tahun pada Maret sebesar 8,8 persen, namun menurut Burhanuddin lebih berkepentingan pada angka yang lebih panjang. “Jadi meskipun pekerjaan Bank Indonesia penyesuai jangka pendek, tapi arah ke depan yakni jangka menengah dan panjang harus tetap diperhatikan,” paparnya.
Seperti diberitakan, pekan lalu SBI melonjak 17 basis poin menjadi 7,7 persen (Koran Tempo, 21/4). Sebagian kalangan menganggap kenaikan SBI yang signifikan ini membuat ketidakpastian pasar dan berpotensi pada maraknya spekulasi dan terulangnya penarikan besar-besaran reksadana yang berlangsung beberapa waktu lalu.
rr. ariyani
INDEKS BERITA LAINNYA :
|