|
Ekonomi Bisnis
Jamsostek Punya Direksi Baru
Selasa, 05 April 2005 | 05:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara BUMN, Sugiarto, Hari Senin kemarin (4/4) di Jakarta, melantik Iwan P Pontjowinoto sebagai Direktur Utama PT. Jamsostek (Persero) yang baru menggantikan A.Djunaidi. Tak hanya Dirut, Sugiarto juga mengganti hampir semua Direksi Jamsostek.
Iskandar Z Rangkuti diangkat sebagai Direktur Investasi menggantikan Samuel Tobing, Jaya Prawira sebagai Direktur Keuangan menggantikan Widjokongko Puspoyo, Tjarda Muchtar sebagai Direktur Operasi dan Pelayanan menggantikan Indra Haryadi, dan Andi Ahmad sebagai Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi menggantikan Tri Lestari yang pindah posisi menjadi Direktur Umum dan SDM menggantikan Armon Arleg.
Dalam sambutannya, Sugiarto menegaskan bahwa pemerintah menginginkan perubahan signifikan dalam pengelolaan Jamsostek, terutama dalam hal penetrasi kepesertaan Jamsostek pada tenaga kerja. "Jumlah kepesertaan hingga saat ini masih jauh dari harapan. Padahal sesuai amanat Undang-undang No.3 Tahun 1992, Jamsostek harus mengupayakan kepesertaan itu agar seluas dan sejauh mungkin mencakup semua tenaga kerja, termasuk yang di luar negeri,"katanya.
Menurut Sugiarto, yang juga harus diperhatikan oleh para direksi baru adalah pengelolaan dana investasi Jamsotek. Baginya, selama ini dana Jamsostek banyak ditempatkan pada marketable securities yang memiliki resiko tinggi. "Investasi Jamsotek sarat dengan resiko tinggi sebab itu dana pekerja. Untuk itu, sistem pengelolaan portofolio investasinya harus memperhatikan prinsip penempatan yang lebih prudent dan akuntabel dari sebelumnya,"katanya.
Soal tugas barunyaa, Iwan P Pontjowinoto menyatakan, untuk memenuhi tugas dan harapan-harapan pemerintah selaku pemegang saham Jamsostek, dirinya beserta direksi telah mempersiapkan serangkaian program kerja. Dalam soal pengelolaan investasi, menurut Pontjowinoto, dana Jamsostek adalah dana jangka panjang yang sudah seharusnya dialokasikan untuk pembiayaan yang juga jangka panjang. "Dalam hal ini, yang ideal adalah saham. Tapi, apakah itu cocok dengan Jamsostek. Obligasi juga harus dilihat apakah dia memberi manfaat pada pekerja. Mungkin yang bagus adalah obligasi untuk pembiayaan perumahan,"katanya.
Thoso Priharnowo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|