Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

"Indentifikasi Tunggal Penting untuk Pengembangan TI Perbankan"
Rabu, 30 Maret 2005 | 16:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat teknologi informasi Richardus Eko Indrajit menyatakan, nomor indentifikasi tunggal (single identification number) sangat penting dalam pengembangan teknologi informasi perbankan.

Menurut dia, jika tiap orang Indonesia punya satu nomor indentifikasi, bank dengan mudah dapat mengetahui jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, tempat tinggal, pembayaran pajak, atau kepemilikan asuransi.

Nomor indentifikasi tunggal itu juga akan memudahkan bank saling tukar menukar data nasabah. Sampai saat ini perbankan masih menggunakan data dari beberapa nomor indentifikasi seperti kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi (SIM), kartu keluarga (KK), akta perkawinan, atau akte kelahiran untuk proses konfirmasi dalam presetujuan proses perbankan.

"Padahal nomor KTP terlalu panjang, tidak terstandar, dan satu orang bisa punya lebih dari satu KTP," kata Richardus di Jakarta hari ini, disela-sela seminar bertajuk 'Maximizing Profit Through Information and Communication Technology in the Financial Companies.'

Selain tidak adanya nomor indentifikasi tunggal, menurut dia, hal lain yang menghambat pengembangan teknologi informasi perbankan adalah belum disahkannya berbagai kebijakan terkait seperti Undang-Undang Kerahasiaan Negara dan Kebebasan Informasi. "Undang-undang itu masih digodok, sehingga belum ada standar data nasabah," jelasnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Divisi Teknologi Informasi Adira Dinamika Multifinance Cornel Hugroseno. Menurut Cornel, pengembangan teknologi informasi perbankan terganjal dengan belum dibentuknya Biro Kredit Nasional. Padahal, biro ini diharapkan dapat menerapkan identitas nasabah (single customer identity
Cornel menyatakan, identitas nasabah sangat penting untuk memberi referensi bagi institusi keuangan dalam memberi kredit kepada nasabah tersebut.

"Saat ini belum ada kesamaan sumber data antara multi finance ataupun perbankan, sehingga orang yang masuk dalam black list (daftar hitam) bisa masuk ke institusi keuangan yang lain," tuturnya.

Dengan identitas nasabah itu, tidak akan terjadi lagi nasabah yang belum memenuhi kewajibannya membayar tagihan, bisa mendaftar untuk pengajuan permohonan kredit di tempat lainnya. "Dia (nasabah) itu akan langsung ditolak oleh manajemen lembaga keuangan tersebut," paparnya.

Selama belum diterbitkannya kebijakan mengatur data nasabah dan standarisasi data tersebut, Cornel mengungkapkan, usaha antisipasi dalam menyetujui permohonan kredit dari orang yang bermasalah dilakukan dengan membagi informasi dalam jaringan Asosiasi Lembaga Pembiayaan Indonesia (ALPI).

"Asosiasi ini selalu membagi data tentang paydebt dari tiap nasabah. Data itu berisi nama dan tempat tinggal nasabah," ujarnya.

Menurut dia, data ini disebarkan sebagai data blacklist ke jaringan ALPI untuk digunakan sebagai proses persetujuan kredit. Namun sayangnya, baru multi finance yang menerapkan hal ini.

Adira Finance tahun ini menginvestasikan sekitar Rp 34 miliar untuk biaya teknologi informasi, yang sebagian besar biaya itu untuk infrastruktur dan perangkat keras. Sedangkan perangkat lunak dan jasa hanya 30 persen dari total biaya.

Dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, menurut Cornel, biaya operasional Adira Finance bisa dihemat. Ini tergambar dari tidak digunakannya lagi tenaga credit marketing officer (CMO).

"Tahun lalu CMO mencapai 2.800 orang untuk mencapai target penjualan Rp 6 triliun. Tahun ini untuk mencapai target Rp 10-11 triliun, kami akan lakukan tanpa menambah CMO. Kalau menggunakan standar produktivitas yang lama, kami harus menambah 4.000-4.500 tenaga CMO," katanya

Rr Ariyani - Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Telepon genggam/ handphone Samsung SGH-A200 Blue I, Jakarta, 15 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010422]. Seorang SPG dan laptop/ teknologi GPRS yang diterapkan Ericsson pada pameran IITELMIT 2001 di JCC, Jakarta, 29 Mei 2001 [Koran TEMPO/ Arie Basuki; K1A/451/2001; 20010623].
Handphone Samsung SGH-A200 Blue I
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Alat Deteksi Segera Dipasang Sepanjang Sumatera
Belanja Teknologi Perbankan Capai US$ 250 Juta
Relawan BEM UI Bersitegang dengan Tentara Australia di Aceh
Indonesia Segera Pasang Alat Pemantau Tsunami Senilai US $ 13 juta
Yellow Pages Kalahkan Kompas dan Tempo Interaktif
Teknologi Informasi dan Komunikasi Perlu Landasan Hukum
Microsoft Tawarkan Software Khusus Untuk UKM
Menristek Kunjungi Puspitek Serpong
Presiden Prihatin dengan Minimnya Lulusan Ilmu Pasti
Pemerintah Akan Pelopori Penggunaan Open Source


Referensi

Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Reusable Sanitary Landfill, alternatif pengolahan sampah Jakarta
Kesia-siaan TPST Bojong
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data