Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Pemerintah Tunda Penerbitan Obligasi Internasional
Kamis, 24 Maret 2005 | 13:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menunda penerbitan obligasi internasional untuk jangka waktu yang tidak ditentukan senilai US$ 1 miliar karena kondisi pasar internasional sedang mengalami kelesuan.
"Kita di dalam menerbitkan obligasi internasional ini mencari the best momentum jangan sampai biaya-biaya terlalu mahal, kata Menteri Keuangan, Jusuf Anwar, kepada wartawan di Departemen Keuangan, Kamis (24/3).

Menkeu menjelaskan, kondisi pasar inetrnasional mengalami kerontokan disebabkan karena bank sentral Ameriksa Serikat (The Fed Fund) menaikan suku bunganya sebesar 25 basis poin. "Ini berarti total cost kita menjadi besar kalau kita pergi ke pasar internasional sekarang ini,"katanya.

Sebelumnya, ekspektasi pemerintah untuk penjualan obligasi internasional ini dengan membaiknya kondisi Indonesia menunjukkan antusias market internasional yang cukup tinggi. Selain itu, kenaikan peringkat Indonesia dari B menjadi B+ dengan keluarnya Indonesia dari daftar negara yang tidak korporatif dalam tindak pidana pencucian uang (NsTT), perkembangan pasar modal yang menembus rekor sehingga pemerintah menargetkan spread yang cukup rendah yaitu sebesar 235 basis poin.

Namun, dengan naiknya spread US treasury bill dari tahun lalu sebesar 405 basis poin menjadi 477 basis poin membuat biaya yang dikeluarkan pemerintah menjadi tinggi. Tahun lalu, dengan peringkat B besarnya spread yaitu 77 basis poin. Hal ini, menurut Menkeu, membuat investor enggan untuk melakukan deal

Dari hasil penjajakan atau road show telah dilakukan sekitar 150 pertemuan. Selain itu, dari rangkaian tersebut memperoleh tanggapan positif oleh pelaku pasar (investor), namun pemerintah masih akan melakukan monitoring terhadap kondisi pasar untuk menentukan waktu yang tepat untuk menerbitkan obligasi.

Dengan adanya respon pasar yang positif tersebut apabila Indonesia menerbitkan kembali obligasi internasional dalam waktu dekat, menurut Menteri, tak perlu lagi melakukan road show. "Tinggal deal ke investornya saja,"katanya.

Namun, sekarang ini para investor mengalami expect reasonyang lebih tinggi dalam bentuk treasury rate yang tinggi, karena adanya class General Motor(GM), kenaikan suku bunga bank sentral AS, dan adanya kenaikan inflasi di AS. "Tapi kalau dari sudut resiko, Indonesia sudah sangat baik dengan peringkat B+ kita mempunyai spreadyang cukup baik serta pasar yang cukup positif,"ujar Menteri Yusuf.

Penerbitan obligasi tidak bisa dipastikan sekarang atau besok. Namun, pemerintah, menurut Yusuf, akan terus memonitoring Customer Price Index (CPI) di Amerika Serikat.

Evy Flamboyan dan Thoso P

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Menteri Keuangan Boediono dalam rapat dengar pendapat umum dengan anggota Komisi IX DPR membahas masalah penutupan Bank Dagang Bali (BDB) dan Asiatic di Gedung MPR/ DPR, Jakarta,  27 April 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040416] Menteri Keuangan Boediono dalam rapat dengar pendapat umum dengan anggota Komisi IX DPR membahas masalah penutupan Bank Dagang Bali (BDB) dan Asiatic di Gedung MPR/ DPR, Jakarta,  27 April 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040416]
Boediono
Boediono

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

New York dan London Sambut Baik Penjajakan Obligasi Indonesia
Pemerintah Serahkan RAPBN-P 2005 kepada DPR
Investor Singapura Sambut Obligasi Dolar Indonesia
Lelang Obligasi Negara Seri FR0028 Sebesar Rp 2 Triliun
Terkait Obligasi Valas, Pemerintah Monitor Perkembangan Pasar Internasional
Indonesia Tawarkan Obligasi Global Berjangka 10 Tahun
WOM Finance Terbitkan Obligasi Awal Mei
Paris Club Tunda Cicilan Utang Indonesia Satu Tahun
Menkeu : Belum Ada Pengajuan Anggaran dari TNI
Menpera Minta Tambahan Dana Kompensasi Rp 400 Milyar
> selengkapnya...


Referensi

Perjalanan BPPN dari Waktu ke Waktu
Status Pengutang BPPN
Profil Iwan Prawiranata
Profil Glen Yusuf
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 16 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Tim Pemberesan Badan Penyehatan Perbankan Nasional
Keppres RI No. 3 Tahun 2004 Tentang Sistem Kepegawaian Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
> selengkapnya...

Website

Departemen Keuangan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data