Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Putera Sampoerna Jajaki Bisnis Pertanian dan Infrastruktur
Selasa, 22 Maret 2005 | 03:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Teka-teki di balik penjualan saham PT HM Sampoerna Tbk. ke Philip Morris International Inc. mulai tersingkap.

Putera Sampoerna, cucu Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan rokok kretek terbesar ketiga di Indonesia itu, menyatakan, kerajaan bisnisnya akan banting setir ke sektor pertanian dan infrastruktur.

Dalam siaran pers yang dilansir kemarin, Putera menyatakan, transaksi seperti ini---keluarga menjual mayoritas saham pada saat perusahaan sedang berkembang dan pemiliknya tidak sedang kesulitan keuangan---memang jarang terjadi di Asia.

Namun, kata pemimpin keluarga Sampoerna ini, anggota keluarga dapat menerima alasan yang dikemukakan. "Kami memang akan diversifikasi usaha," ujarnya. "Bahkan sebelum Philip Morris melakukan pendekatan tahun lalu."

Putera menegaskan, keluarganya akan tetap berbisnis di Indonesia. "Sampoerna adalah keluarga Indonesia dan akan selalu hadir di Indonesia."

Karena itu, Komisaris Utama HM Sampoerna ini pun menyatakan, keluarga Sampoerna sedang menjajaki berbagai kemungkinan investasi, seperti pertanian dan infrastruktur, yang diyakininya merupakan sektor-sektor yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

"Indonesia sudah bergerak ke arah yang tepat," katanya. "Dan sekarang saat yang tepat untuk berinvestasi kembali."

Putera juga menegaskan tidak akan memutuskan keterlibatan dengan HM Sampoerna. Dia bersedia duduk sebagai penasihat senior di dewan direksi selama dibutuhkan.

"Perusahaan ini membawa nama keluarga kami, saya tidak mungkin meninggalkan begitu saja."

Philip Morris telah membeli 40 persen saham HM Sampoerna, termasuk milik keluarga Sampoerna yang dikuasai lewat DuBuis Holdings Limited, seharga Rp 10.600 per lembar atau senilai total US$ 2 miliar (Rp 18,6 triliun).

Philip Morris akan membidik 60 persen sisanya lewat penawaran tender dengan harga yang sama. Bisik-bisik bakal beralihnya keluarga Sampoerna ke bisnis infrastruktur memang sudah mulai terdengar begitu kabar transaksi itu tersiar.

Seperti diberitakan Koran Tempo, Selasa (15/3), menurut sumber Tempo yang berhasil mengorek informasi dari "orang dalam" Sampoerna, bisnis infrastruktur dinilai lebih menjanjikan ketimbang bisnis rokok.

"Mereka melihat fenomena di Malaysia," ujarnya. "Dengan uang US$ 2 miliar, power keluarga Sampoerna di bisnis ini akan luar biasa besar."

Di sisi lain, pertumbuhan industri rokok sudah sangat terbatas dan prospeknya suram dalam jangka panjang(dying company) karena pola hidup masyarakat akan semakin menjauhi rokok.

Putera tidak memungkiri kenyataan ini. Dia menjelaskan, meskipun tahun lalu HM Sampoerna membukukan penjualan tertinggi dalam 10 tahun terakhir, perkembangan industri rokok di Indonesia semakin sulit. "Untuk dapat mempertahankan pertumbuhan tersebut, perusahaan harus memperluas pasar di luar negeri," ujarnya.

Metta Dharmasaputra - Tempo





INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Moody's Kaji Kenaikan Peringkat Utang Dolar Sampoerna
Sampoerna Beri Beasiswa ke 5.000 Siswa


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data