|
Ekbis
Pengamat: Prediksi Nilai Rupiah Menguat, Terlalu Optimis
Minggu, 20 Maret 2005 | 04:24 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Analis Pasar Uang dari Currency Management Group Farial Anwar menyatakan prediksi Bank Indonesia tentang menguatnya nilai tukar rupiah di akhir 2005 terlalu optimis. "Selama ini prediksi pemerintah dan kenyataan di lapangan selalu berbeda," ujarnya pada Tempo, Sabtu (19/3).
Prediksi yang dikeluarkan pemerintah selama ini, dikatakan Farial, tidak pernah akurat teraplikasi. Pada 2004, misalnya, pemerintah memprediksi nilai tukar rupiah di kisaran Rp 8.600 - Rp 8.800 per dolar AS. "Tapi kenyataannya jauh di atas itu," katanya.
Hingga saat ini, Farial menilai, potensi rupiah melemah masih besar. Pasalnya, perhatian pasar selain masih pada efek domino akibat harga minyak yang melambung tinggi yang mengakibatkan permintaan dolar dari Pertamina semakin besar juga pada naiknya harga bahan bakar minyak.
Efek domino akibat inflasi seperti berupa peningkatan biaya transportasi dan rencana kenaikan tarif listrik ini, kata dia, akan menyebabkan mata uang suatu negara akan tertekan. "Karena dengan memegang mata uang yang bersangkutan, nilainya semakin susut," jelasnya.
Perkiraan inflasi sebesar 7,5 persen yang jika dibandingkan dengan suku bunga SBI sebesar 7,43 persen, menurut Farial, menciptakan suku bunga riil efektif yang negatif. "Jika bunga yang diterima dibandingkan dengan inflasi, tidak akan dapat hasil yang positif. Aset ataupun dana kita nilainya akan susut," tuturnya.
Karenanya, Farial beranggapan menguatnya rupiah sangat sulit terwujud. "Ditambah lagi sentimen negatif terhadap beberapa peristiwa yang terjadi di dalam negeri, seperti sengketa Ambalat, kondisi politik terhadap kenaikan harga BBM," ucapnya.
Kedatangan investor asing ke Indonesia, menurut Farrial, diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. "Mereka akan wait and see terhadap perkembangan yang akan terjadi di negeri ini," ujarnya.
Pasar saat ini melihat Rp 9.300 per dolar AS, di posisi dasar. Menurutnya, prediksi BI Rp 8.600-Rp 9.200 per dollar AS terlampau optimis. "Saat ini menembus angka Rp 9.000 per dollar AS saja sudah bagus sekali," jelasnya.
Farial memaparkan cara mencapai nilai tukar rupiah Rp 8.600 per dolar AS adalah dengan mengadakan real capital inflow. Ia menyatakan saat ini uang yang masuk ke pasar modal adalah uang panas, untuk beli saham dan dolar. "Mestinya jika harga saham naik, harusnya dolar yang dibawa, dijual dan ditukar ke rupiah untuk membeli saham. Tapi tidak terjadi. Yang terjadi dolar naik terus, sahamnya ikut naik. Bahkan saat ini saham mencapai level tertinggi. Ini merupakan anomali," tandasnya.
RR. Ariyani
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|