|
Ekonomi
Flu Burung Kembali Mewabah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan Diisolasi
Kamis, 17 Maret 2005 | 06:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mengakui flu burung kembali mewabah (avian influenza) di Tanah Air.
Menurut Menteri Pertanian Anton Apriantono, wabah ini telah mengakibatkan tewasnya ribuan ekor unggas di Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Kepastian diketahuinya virus ini melalui hasil pemeriksaan di laboratorium.
"Untuk Jawa Barat, kami mendapat laporan wabah itu terjadi mulai awal tahun ini dan di Sulawesi Selatan bulan ini," kata Anton di Jakarta.
Anton mengatakan, dirinya telah mengeluarkan perintah agar Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan diisolasi dengan cara melarang masuk dan keluarnya unggas dari kedua provinsi itu. Isolasi itu tujuannya agar tidak menjangkiti unggas di provinsi lain.
Selain itu, menteri juga telah menginstruksikan agar Dinas Peternakan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan mencegah daging unggas yang sudah terjangkiti virus diperdagangkan di pasar. Dinas Pertenakan juga sudah diminta menangani unggas yang mati dengan benar.
Dia menambahkan, pemerintah telah melancarkan vaksinasi besar-besaran di kedua provinsi tersebut. Program yang sama juga digelar di provinsi lain agar untuk mencegah unggas di daerah lain terjangkiti. "Jumlah vaksin yang ada mencukupi," katanya.
Menurut Anton, apa yang dilakukan pemerintah saat ini sesuai dengan prosedur tetap yang telah dirancang pemerintah ketika menghadapi wabah serupa beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Departemen Pertanian akan memberikan kompensasi uang kepada para peternak skala kecil yang unggasnya terjangkit flu burung.
Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian Warsito, ketentuan untuk mendapatkan kompensasi itu adalah peternak yang memiliki ternak ayam layer minimal 10 ribu ekor dan ayam broiler 15 ribu ekor. Selain itu, maksimal ayam yang mati mencapai 5.000 ekor untuk setiap peternak dan 1 ekor ayam dihitung Rp 2.000 per ekor.
"Saat ini Kepala Dinas Peternakan sedang berdiskusi dengan gubernur untuk membicarakan hal itu," kata Warsito pada kesempatan terpisah.
Berdasarkan catatan Tempo, flu burung mulai menyerang unggas di Indonesia sejak 2003, seiring dengan mewabahnya virus ini di sejumlah negara Asia.
Pemerintah waktu itu menyediakan vaksin yang diproduksi tiga produsen dalam negeri, yaitu Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) di Surabaya, PT Vaksindo Satwa Nusantara di Bogor, dan PT. Medion di Bandung.
Selama beberapa bulan kemudian, pemerintah tampaknya sudah berhasil mengatasi wabah ini. Namun, akhir 2004, wabah itu kembali menyerang ribuan unggas di berbagai daerah, terutama terjadi di Mataram dan Jawa Barat.
Terakhir, seperti diungkapkan Warsito, berdasarkan informasi yang diperoleh Selasa (15/3) malam, jumlah ayam di Kabupaten Maros, Wajo, dan Soppeng, Sulawesi Selatan yang terjangkit flu burung dan mati mencapai 12 ribu ekor dari total populasi 30 juta ekor.
Menurut data Ditjen Pertenakan Departemen Pertanian, selama periode Januari-pertengahan Maret 2005, virus flu burung telah menyebabkan kematian unggas di Indonesia sekitar 24 ribu ekor.
Penyakit ini mulai mewabah di Indonesia sejak 2003, sehingga total jumlah unggas yang terjangkit penyakit sejak 2003 sampai pertengahan Maret 2005 mencapai 16,24 juta ekor dan telah menyerang 105 kabupaten/kotamadya di 17 provinsi.
Budi Riza/Khairunnisa - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|