Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

"Kampanye Pemerintah Soal Penerima Subsidi BBM Menyesatkan"
Kamis, 03 Maret 2005 | 22:32 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat otomotif Soehari Sargo menilai, kampanye pemerintah yang menyebutkan bahwa 84 persen subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 72 triliun dinikmati oleh golongan kaya, menyesatkan. "Darimana perhitungan seperti itu?" kata Soehari di Jakarta hari ini.

Menurut dia, saat ini ada sekitar 94 juta orang atau lebih dari separuh populasi yang menikmati subsidi BBM yang akan menderita dari kebijakan pemerintah menaikkan harga jual BBM itu. Pasalnya, kebanyakan penduduk ini justru bukan orang kaya karena sebagian besar menggunakan sepeda motor dan angkutan umum.

Pemerintah seharusnya memperhatikan populasi dan komposisi kendaraan bermotor di Indonesia sebelum mengurangi subsidi BBM, karena dari data itu bisa diketahui siapa yang paling banyak menerima subsisi BBM.

Sampai dengan 2004, jumlah mobil pribadi diperkirakan sekitar 4,5 juta unit, sepeda motor mencapai 24 juta unit, truk/pengangkut barang 2,3 juta unit, serta kendaraan umum/bus 700 ribu unit. Dengan estimasi jumlah penumpang rata-rata minimal 100 orang per unit per hari, jumlah kendaraan umum sekitar 70 juta orang.

Karena itu, dengan mengecualikan pemilik mobil pribadi, terdapat 94 juta orang (pengendara sepeda motor plus pengguna kendaraan umum) yang akan terkena langsung dampak kenaikan harga BBM.

"Pemilik sepeda motor yang berjumlah 24 juta unit itu bukan orang kaya seperti yang disebutkan pemerintah. Begitu juga dengan pengguna bus umum, yang nota bene kebanyakan dari golongan masyarakat bawah," katanya.

Menurut Soehari, kenaikan harga BBM pada akhirnya akan menjadi beban tambahan pengeluaran. Iklan pemerintah yang menyebutkan bahwa subsidi BBM yang menikmati hanya orang kaya, kenyataannya justru membuktikan sebaliknya.

Amal Ihsan - Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Menteri koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), M Jusuf Kalla memberi keterangan pers perihal evaluasi pelaksanaan penyaluran dana konpensasi pengurangan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) 2000 dan 2001 di kantor Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Jakarta, 14/06/02. [TEMPO/ Bagus Indahono; K8A/114/2002; 20020701]. Protes menolak kenaikan harga BBM/ Bahan Bakar Minyak, TDL/ Tarif Dasar Listrik dan tarif telepon dengan punggung bertuliskan Dimuat majalah TEMPO 20030119-012">
M Jusuf Kalla memberi keterangan pers
Protes Kenaikan Harga BBM
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Prosedur Penyaluran Dana Kompensasi Belum Jelas
Perguruan Tinggi Ikut Awasi Alokasi Dana Kompensasi Subsidi BBM
Dua Alternatif Kucuran Beasiswa Dana Kompensasi BBM
Pendataan Penerima Dana Subsidi Kesehatan Selesai Juni 2005
Dana Kompensasi PKPS BBM di Departemen PU Rp 3,3 Triliun
Polda Metro Jaya Kerahkan 654 Personil
Angkutan Umum Mogok, Pelajar Cirebon Terlantar
Tambahan 4,2 Triliun untuk Sektor Pendidikan
Sultan HB X: Penggunaan Dana Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM Jangan Seperti Dulu
Pemerintah Siap Jawab Hak Angket DPR
> selengkapnya...


Website

PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data