|
Ekonomi dan Bisnis
NISP Berniat Akuisisi Bank Lain
Kamis, 03 Maret 2005 | 04:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank NISP Tbk. mempersiapkan rencana untuk melakukan akuisisi bank kecil lainnya. Rencana akuisisi itu akan dilakukan untuk mendorong pertumbuhan menuju perbankan yang sehat.
Presiden Direktur Bank NISP Pramukti Surjaudaja mengakui, akuisisi bank lain masuk dalam rencana jangka panjang perusahaan. "Bila ada kesempatan, tentu akan kami lakukan," kata Pramukti kepada Tempo di Jakarta.
Menurut dia, saat ini NISP masih dalam tahap melihat-lihat terlebih dahulu bank mana yang layak untuk diakuisisi. "Karena itu, kami dalam posisi pasif. Tidak aktif," katanya.
Namun, untuk merealisasikan niat tersebut, Pramukti membenarkan, telah melakukan pembicaraan dengan beberapa bank lain. "Tapi ini masih sangat awal. Baru saling kenal," kata dia.
Lebih lanjut, dia memastikan, langkah akusisi bank lain oleh NISP tidak akan dilakukan dalam tahun ini. "Tahun ini susah," ujarnya. Pertimbangannya, butuh waktu lama untuk persiapan akuisisi. "Paling cepat setengah sampai satu tahun."
Akuisisi itu sendiri, menurut dia, kemungkinan baru dapat terealisasi dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Sedangkan, saat ini NISP lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan proses konsolidasi internal perusahaan pascapenambahan saham Overseas-Chinese Banking Corporation Ltd. (OCBC Bank) dari 22 persen menjadi 51 persen.
Selain itu, perusahaan tahun ini lebih menitikberatkan pada pertumbuhan organik. "Strategi utama kami sekarang adalah pertumbuhan organik," kata Pramukti.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bank NISP Muliadi Hardja menambahkan, "Rencana akuisisi bank lain sedang kami dibicarakan dengan OCBC Bank."
OCBC adalah pemilik mayoritas yang menguasai 51 persen saham NISP. Sebelumnya, saham bank ini dikuasai Keluarga Surjaudaja.
Muliadi menuturkan, pihaknya belum menentukan bank-bank apa saja yang akan diincar. Apalagi, dia mengingatkan, langkah tersebut harus mendapatkan restu dari Bank Indonesia. "Sebab itu, tahun ini kami akan mendorong pertumbuhan secara organik dulu."
Bank Indonesia memang mendorong percepatan konsolidasi perbankan nasional untuk membentuk perbankan yang lebih sehat di masa yang akan datang. Rencana itu sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang diluncurkan BI tahun lalu.
Berkaitan dengan masuknya OCBC Bank sebagai pemegang saham mayoritas NISP, Pramukti pernah mengungkapkan, hal itu bukan hanya untuk memperkuat struktur kepemilikan bank. Namun, akan memperkuat posisi NISP dalam menjalankan ketentuan API, Basel II dan globalisasi perbankan.
NISP merupakan bank kelas menengah dengan aset hampir Rp 17 triliun pada akhir tahun lalu. Sedangkan, OCBC Bank adalah sebuah grup jasa keuangan yang berpusat di Singapura dan beroperasi di 14 negara seperti Malaysia, Indonesia, Cina, Hong Kong, Jepang, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Dia juga memiliki lebih dari 110 kantor cabang dan perwakilan di seluruh dunia.
OCBC Bank menawarkan beragam jasa perbankan untuk konsumen, perusahaan, investasi, pribadi dan transaksi, global treasury, pengelolaan aset, dan jasa pialang saham kepada para nasabahnya.
Tunda obligasi
Selain berniat mengakuisisi bank lain, NISP juga berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 750 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Namun, manajemen memutuskan untuk menunda rencana itu lantaran harus membahas dulu dengan OCBC Bank, sebagai pemegang saham mayoritas baru NISP.
"Untuk obligasi, kami tunda dulu karena masih harus melihat situasi dan proses kepemilikan OCBC. Kami tentu harus duduk dan mendiskusikannya," kata Muliadi.
Namun, menurut dia, rencana penerbitan obligasi itu tak menutup kemungkinan dilakukan di masa yang akan datang. Pasalnya, NISP membutuhkan dana jangka panjang yang bisa diandalkan. "Kalau ada dukungan sumber dana lain, kami juga akan lihat," ujar Muliadi.
Sedangkan untuk mencapai pertumbuhan organik, NISP akan melakukan sejumlah aksi, seperti melakukan kerja sama dengan PT Jatis terkait dengan peluncuran SMS Banking. Dalam program ini, NISP juga bekerja sama dengan provider GSM seperti Telkomsel, Excelcom, dan Indosat. Fasilitas ini diluncurkan karena ada perubahan tren perbankan 30 tahun ini.
"Perubahannya, jenis produk perbankan dan cara pelayanan perbankan dari secara fisik menjadi tanpa tatap muka."
Fanny Febiana/Yura Syahrul
INDEKS BERITA LAINNYA :
|