Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

Bank Indonesia Kemungkinan Naikkan Bunga SBI Akibat BBM
Selasa, 01 Maret 2005 | 03:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia ada kemungkinan akan menaikkan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom menjelaskan, bila kenaikan harga BBM akhirnya meningkatkan inflasi dan menekan nilai tukar rupiah, ada kemungkinan bank sentral akan menaikkan suku bunga. "Itu pilihan terakhir. Kalau memang tidak diperlukan, tentu tidak dilakukan," katanya di Jakarta.

Miranda menegaskan, respons yang akan diambil BI sangat tergantung kepada besar-kecilnya kenaikan inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM tersebut. Selain itu, juga apakah kenaikan BBM akan diikuti masalah distribusi tidak lancar, yang mengakibatkan efek lanjutan inflasi yang jauh lebih besar daripada perhitungan BI.

Berdasarkan perhitungan BI kenaikan harga BBM akan mengakibatkan inflasi meningkat 0,2 persen pada putaran pertama dan 0,3 persen pada efek lanjutannya. Apabila ternyata efeknya lebih besar dari perkiraan itu, BI akan mengupayakan dua hal. Pertama, BI akan memberikan masukan kepada pemerintah beberapa kebijakan yang bisa mengurangi efek lanjutan dari kenaikan harga BBM. Kedua, sebagai pilihan terakhir, BI akan menaikkan suku bunga jika akhirnya nilai tukar rupiah melemah tajam.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan berkeyakinan, kenaikan BBM tidak akan sampai menyebabkan rupiah terpuruk dan membuat BI menaikkan suku bunga.

Dia mengakui, kenaikan harga BBM memang akan menaikkan angka inflasi. Namun, hal itu terjadi sekali, karena langkah tersebut hanya kebijakan sesaat, yaitu pemerintah menganggap perlu menaikkan harga BBM.

Menurut Fauzi, inflasi meningkat bukan karena satu kebijakan moneter yang berjalan terus. Sampai semester pertama inflasi diperkirakan meningkat mencapai 8,7 persen. Namun, mengingat sifatnya hanya sekali, pada semester kedua inflasi akan kembali turun dan normal. "Apalagi, jika didukung oleh penguatan rupiah."

Apabila BI mengambil kebijakan menaikkan suku bunga, kata dia, di masa depan BI akan cenderung terus menaikkan suku bunga. "Secara psikologis siap tidak BI menghadapi permasalahan yang akan muncul kemudian."

Permasalahan yang bisa muncul akibat suku bunga yang tinggi adalah pasar obligasi menjadi anjlok. Padahal pemerintah harus menerbitkan surat utang negara (SUN) untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. "Jika pasar obligasi anjlok dan peminat SUN berkurang, pemerintah akan kesulitan membayar utang."

Untuk itu, Fauzi melanjutkan, apabila masyarakat percaya bahwa kenaikan harga BBM tidak akan berakibat buruk pada nilai tukar rupiah, langkah BI untuk menaikkan suku bunga tidak perlu terjadi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie menilai inflasi yang akan terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak maksimal hanya 1-1,5 persen. Dengan kondisi itu, inflasi tahunan tidak melebihi 7 persen.

Aburizal optimistis, target inflasi tersebut bisa tercapai. Itu karena pemerintah akan melakukan operasi pasar untuk menekan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok akibat harga BBM naik (Koran Tempo, Sabtu 26/2).

Optimisme serupa juga sempat disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menurut Mari, kenaikan BBM tidak akan berpengaruh besar pada angka inflasi. Perkiraan kenaikan inflasi yang tidak signifikan itu berdasar pada pengalaman pemerintah untuk menaikkan harga bahan minyak pada 1980-2002.

Dia menyebutkan, kenaikan BBM mengakibatkan kenaikan inflasi 0,5 persen pada 2001 dan 2002 mencapai 0,8 persen. "Untuk harga produk, kenaikannya tidak lebih dari 0,5-1,5 persen, tergantung produknya," kata Mari dalam siaran persnya beberapa waktu lalu.

Angka perkiraan yang lebih tinggi disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS). Dari hasil kajiannya, BPS memperkirakan, bila harga BBM naik sekitar 25 persen, maka akan ada tambahan peningkatan inflasi sebesar 0,37-0,56 persen. Sedangkan bila BBM dinaikkan 65 persen, maka akan ada tambahan peningkatan inflasi sebanyak 1,11-1,3 persen.

Sam Cahyadi - Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Poster Dimuat majalah TEMPO 20010527-006"> Oli Mesran Drum, Jakarta, 9 Juni 2000. [TEMPO/ Robin Ong; 30d/116/2000; 2000/06/22]. <br>Dimuat majalah TEMPO 20000625-079
Pompa Bensin Kawasan Tanah Abang
Oli Mesran
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tidak Ada Demo Anti-Kenaikan BBM di Pekanbaru
DPRD Kalsel Kecam Naiknya Harga BBM
DPRD Sulawesi Tenggara Tolak Kenaikan Harga BBM
Tarif Angkot dan Harga Sembako Naik
Ongkos Angkutan Umum Naik 50 Persen
Sopir Mogok dan Turunkan Penumpang
Minyak Tanah di Pandeglang Jadi Rp 1.500/Liter
Organda Buat Selebaran Kenaikan Tarif Angkutan
Pemerintah Tak Lagi Subsidi Minyak Bakar
Sopir Unjuk Rasa ke DPRD Palu
> selengkapnya...


Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data