|
Ekonomi
Inflasi Januari-Desember 2004 Capai 6,4 Persen
Senin, 03 Januari 2005 | 21:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pusat Statistik menyebutkan, inflasi pada Desember 2004 mencapai 1,04 persen.
Sedangkan laju inflasi selama periode Januari-Desember 2004 dibandingkan dengan inflasi pada periode yang sama tahun lalu (year on year) mencapai 6,4 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum, inflasi 2004 itu masih lebih rendah dari target inflasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan sebesar 7 persen.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada semua kelompok-kelompok barang dan jasa, yaitu bahan makanan naik sebesar 2,37 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,92 persen, kelompok perumahan, air listrik, gas, dan bahan bakar 0,89 persen, kelompok sandang 0,58 persen, kelompok kesehatan 0,73 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,04 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,04 persen.
Dari sisi sumbangan terhadap tingkat inflasi, kelompok bahan makanan memberikan andil atau sumbangan inflasi sebesar 0,58 persen. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,16 persen, kelompok sandang 0,04 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,23 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,01 persen, serta kelompok kesehatan 0,02 persen.
Choiril menjelaskan, laju inflasi pada Desember 2004 berbeda dengan kecenderungan inflasi pada Desember tahun sebelumnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, inflasi pada Desember biasanya lebih rendah dari November.
Inflasi November biasanya paling tinggi sepanjang tahun, karena peningkatan permintaan akibat bulan puasa dan Lebaran. Namun, tahun lalu inflasi pada Desember meningkat akibat adanya pemberitaan bahwa pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Orang-orang kemudian ikut-ikutan menaikkan harga padahal harga BBM belum naik. Ini yang disebut efek psikologis,” kata Choiril.
Menurut dia, pada 2003 inflasi pada September mencapai 0,36 persen, Oktober 0,55 persen, November 1,01 persen, dan Desember 0,94 persen. Pola di mana bulan inflasi pada November lebih besar dari Desember juga terjadi pada 2002 dan 2001.
Pola berbeda muncul pada 2004. Jika September 2004 inflasi mencapai 0,02 persen, Oktober 0,56 persen dan November 0,89 persen. “Ternyata inflasi Desember yang kami perkirakan lebih kecil dari 0,89 persen, malah lebih lebih besar, yakni 1,04 persen akibat adanya pemberitaan kenaikan BBM itu,” kata Choiril.
Choiril menduga, inflasi nantinya akan mengalami kenaikan lebih besar lagi pada saat harga BBM benar-benar dinaikkan. Hasil kajian BPS memperkirakan, bila harga BBM naik sekitar 25 persen, maka akan ada tambahan peningkatan inflasi sebesar 0,37-0,56 persen. Sedangkan bila BBM dinaikkan 65 persen, maka akan ada peningkatan inflasi sebanyak 1,11-1,3 persen.
Menurut dia, inflasi pada Desember 2004 masih belum sepenuhnya memperhitungkan dampak bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh.
Perhitungan Indes Harga Konsumen (IHK) di Banda Aceh misalnya, baru terekam sampai minggu ketiga. “Untuk Lhokseumawe agak lumayan, karena laporannya sampai dengan 28 Desember 2004 atau sudah memasukkan sebagian kecil efek gempa dan tsunami,” katanya.
Keseluruhan efek gempa dan tsunami pada inflasi baru bisa terekam dalam data inflasi Januari. Inflasi di kota-kota Aceh pada bulan itu sudah akan dapat terekam. Begitu juga kota-kota lain yang secara tidak langsung akan terpengaruh.
Amal Ihsan - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|