|
Ekonomi dan Bisnis
Kadin Desak Pemerintah Beri Insentif Fiskal
Senin, 27 Desember 2004 | 13:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mendesak pemerintah agar memberikan insentif fiskal bagi untuk menarik investasi migas.
“Ini harus dilakukan secepatnya untuk meningkatkan produksi migas di Indonesia,” kata Dito Ganinduto, Wakil Ketua Umum Energi dan Resources Kadin, di Jakarta, Senin (27/12).
Saat ini produksi minyak dan gas Indonesia telah semakin menurun. Untuk minyak, produksinya 1.040.000 barel perhari, sedangkan sekitar tahun 1997 masih 1.700.00 barel perhari. “Akibatnya, anggaran menjadi defisit, karena itu Kadin mengimbau pemerintah agar segera mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan produksi minyak,” katanya.
Kebijakan fiskal tersebut diantaranya adalah pembebasan bea masuk dan penangguhan PPN selama masa eksplorasi, pembebasan barang-barang impor untuk kegiatan eksplorasi serta pemberian insentif lain. “Dalam bulan Februari saya dengar akan segera direalisasikan,” tandasnya.
Selama ini Dirjen Minyak dan Gas Bumi telah berupaya untuk meminta insentif kebijakan fiskal. Namun, terganjal oleh UU Keuangan. Iin Arifin Takhyan, Dirjen Minyak dan Gas Bumi pernah mengatakan, untuk pemberian tarif fiskal maka yang harus dilakukan adalah dengan mengamandemen terlebih dahulu UU Keuangan. Mengenai hal ini, Dito menyatakan, jika memang benar perlu merevisi UU Keuangan maka harus secepatnya dilakukan. Karena untuk meningkatkan produksi.
Selain pemberian insentif fiskal, untuk peningkatan produksi Kadin juga meminta agar Pertamina mengembangkan beberapa penemuan minyak hasil eksplorasi yang selama ini belum dikembangkan karena keterbatasan dana. Langkah lain adalah dengan mengoptimalisasi lapangan-lapangan marginal untuk menambah produksi.
Kadin juga mengharapkan investor agar segera memulai kegiatan eksplorasi dan melakukan eksplorasi dilaut dalam dan daerah perbatasan.
Sedangkn untuk peningkatan produksi, produksi minyak di Cepu agar segera dipercepat, maksimal dalam jangka waktu dua tahun. Sebab, dari Cepu minimal bisa dihasilkan 150 ribu barel perhari. “Itu cadangan yang terbesar yang bisa didapat dalam jangka waktu dua tahun,” jelas Dito.
Bila langkah-langkah tersebut dilakukan, kata Dito, disertai dengan peningkatan efisiensi BP Migas dan memangkas birokrasi yang tidak diperlukan diharapkan dalam jangka waktu sekitar lima tahun produksi minyak nasional dapat mencapai 1,1-1,2 juta barel perhari. Selain itu, sasaran jangka panjang (di atas 10 tahun) 1,3 juta barel perhari dapat tercapai. (muhamad fasabeni)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
 |
| Burhanuddin Abdullah, Aburizal Bakrie dan Mohamad S Hidayat
|
|
| Megawati Soekarnoputri dan Mohamad S. Hidayat
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|