|
Ekonomi dan Bisnis
Pemerintah Akan Lakukan Operasi Pasar
Rabu, 22 Desember 2004 | 17:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah berencana melakukan operasi pasar untuk menghindari terjadinya penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai spekulasi menyusul rencana pemerintah menaikan harga BBM pada awal tahun depan.
"Operasi pasar terhadap penimbunan akan kami lakukan," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Aburizal Bakrie, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/12).
Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah menanyakan soal penimbunan BBM tersebut kepada gubernur di seluruh Indonesia. Pertanyaan itu, diajukan Presiden saat rapat kerja dengan seluruh gubernur, Selasa. "Presiden minta seluruh Gubernur mengecek kemungkinan itu."
Tapi Aburizal menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan intervensi dengan mengontrol harga. Dia menjelaskan hal itu menanggapi kenaikan harga elpiji dan pertamax yang memicu kenaikan harga sembako dalam beberapa hari terakhir ini.
Kenaikan harga sembako tidak ada hubungannya dengan kenaikan elpiji. "Yang sering dikeluhkan, kenaikan harga sembako karena kenaikan harga elpiji, (elpiji) yang seolah-olah dipakai rakyat banyak," kata dia.
Elpiji, lajut Aburizal, hanya dipergunakan oleh lima persen keluarga di seluruh Indonesia. Sedangkan, sebagian besar rakyat lebih banyak menggunakan minyak tanah dan kayu bakar. "Minyak tanah kan dipakai 80 persen oleh rakyat Indonesia," kata dia.
Karena itulah, pemerintah tidak akan pernah mensubsidi elpiji. Dana subsidi lebih baik dipindahkan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan rakyat miskin.
Knaikan harga sembako lebih dipicu oleh kenaikan harga di dunia internasional. "Beras di pasar internasional harganya sudah US$ 250 sampai US$ 270 sekarang," kata dia.
Selain itu, kenaikan juga dipicu oleh fenomena akhir tahun dimana menjelang hari raya natal dan tahun baru.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga menegaskan kenaikan harga elpiji tidak berkaitan dengan kenaikan harga sembako. Menurut dia, kenaikan harga sembako saat ini, masih tergolong wajar dan stabil. "Ada kenaikan harga tapi karena soal lain," kata dia.
Seperti gula, harganya naik karena harga gula di luar negeri tidak naik. "Jadi bukan karena masalah BBM," katanya.
Jusuf menambahkan, kenaikan harga sembako itu bersifat elastis yang dipengaruhi oleh banyak hal. "Kapan saja orang bisa beli makanan," kata dia.
Sedangkan kenaikan harga elpiji, kata Jusuf, karena Pertamina sudah tidak dapat lagi mempertahankan harga yang berlaku saat ini. Penyebabnya, arus kas Pertamina sudah terlalu banyak menanggung kerugian sejak lama. Kenaikan harga elpiji yang diberlakukan saat inipun, hanya pas-pasan untuk menutup kerugian tersebut.
Wakil Presiden memahami, reaksi penolakan oleh sekelompok masyarakat tapi dia meminta pengertian atas kenaikan harga BBM. "Makanya saya mohon maaf agar dipahami bahwa kami tidak bisa mensubsidi terus menerus harga BBM, kecuali minyak tanah," kata dia.
Sedangkan Menko Kesra Alwi Shihab menganggap aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM yang terjadi beberapa hari terakhir, merupakan sikap frustasi sebagian masyarakatnya saja. "Jangan pula diartikan sebagai keinginan masyarakat banyak. Biasa itu (demonstrasi) terjadi dimana-mana," kata dia. (yura syahrul)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
![Ketua panitia konvensi seleksi pemilihan calon presiden (capres) dari Golkar, Oetojo Oesman (kiri) bersalaman dengan Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Aburizal Bakrie yang akan mengikuti studi kelayakan Calon Presiden yang diajukan Partai Golkar dalam Pemilu 2004, Jakarta, 11 Juni 2003. [TEMPO/ Imam Sukamto; K15A/392/2003; 20030626].](/hg/photostock/2004/12/15/s_K15A39205_high_thumb.jpg) |
| Protes Kenaikan Harga BBM
|
|
| Oetojo Oesman dan Aburizal Bakrie
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|