|
Ekonomi dan Bisnis
Indonesia Minta Utang CGI Lebih Kecil
Selasa, 14 Desember 2004 | 18:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Indonesia akan mengajukan pinjaman ke Consultative Group on Indonesia (CGI),lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu, sebesar US$ 3,4 miliar.
“Kemungkinan besar jumlahnya lebih rendah dari itu,” ujar Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Sri Mulyani Indrawati, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (14/12) sore.
Menurut Ani, demikian ia biasa disapa, pemerintah memang menghendaki pengurangan jumlah utang luar negeri. “Salah satu caranya adalah dengan mengurangi pinjaman baru,” katanya.
Diharapkan, dalam jangka panjang rasio utang luar negeri Indonesia akan terus menurun.
Tahun 2004 ini, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan sekitar 60,1 persen. Ini berarti penurunan dibanding tahun 2002 yang mencapai 77 persen.
Tahun depan direncanakan, rasio utang terhadap PDB mencapai 54,9 persen. “Dalam rangka kebijakan fiskal yang berkelanjutan rasio utang terhadap PDB memang diupayakan agar tidak melebihi 60 persen.”
Walaupun demikian, Ani mengakui, sebenarnya kebutuhan pemerintah terhadap utang luar negeri lebih besar dibandingkan dengan tahun kemarin. Sebab, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membengkak dari semula 0,8 persen menjadi 1 persen. “Jadi sebenarnya kita butuh financing yang lebih besar,” ujarnya.
Adanya konflik antara kebutuhan terhadap utang luar negeri dan keinginan untuk mengurangi rasio utang, menurut Ani, memaksa pemerintah untuk mencari sumber penerimaan yang lain tanpa harus menambah jumlah utang. “Karenanya tahun depan kami akan menggenjot penerimaan dari privatisasi,” ujarnya.
Bank Dunia sendiri, sebagai salah satu lembaga kreditor terbesar sudah memberikan sinyal kesediaan untuk mengucurkan komitmen pinjaman yang lebih besar. “Mungkin jumlahnya bisa sampai US$ 1 miliar,” kata dia.
Sebab, Bank Dunia sendiri menyadari kebutuhan utang yang lebih besar dari Indonesia. Akibatnya, bank tersebut memperkirakan Indonesia akan mengajukan permintaan pinjaman dengan high case scenario atau skenario kasus tinggi yang jumlah komitmennya mencapai lebih dari US$ 800 juta. “Sementara untuk yang skenario biasa, bank dunia sudah menganggarkan dana utang sekitar US$ 400 juta,” katanya.
Adanya kesediaan untuk memberikan komitmen pinjaman yang lebih besar, kata Ani, karena kesadaran dari pemerintah tentang upaya peningkatan kesejahteraan dan percepatan pembangunan.
“Masalah kesejahteraan dan pembangunan inilah yang akan kami jadikan isu utama untuk dibahas dalam pre-CGI meeting,” kata dia.
Adapun masalah lainnya mencakup good corporate governance atau tata kelola usaha yang baik serta masalah keamanan. Lembaga kreditor, kata Ani, sangat menaruh perhatian terhadap usaha peningkatan dan penerapan tata kelola usaha yang baik melalui adanya transparansi informasi, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas publik.
“Sebab hanya dengan itulah terdapat mekanisme kontrol publik sehingga tindakan dan pengeluaran pemerintah dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya. (amal ihsan)
| Dari Koleksi Foto TEMPO Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|