|
Ekonomi dan Bisnis
Harga BBM Belum Perlu Naik
Senin, 13 Desember 2004 | 15:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Anggota Komisi XI DPR Drajad Wibowo menilai pemerintah mestinya tidak terburu-buru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Apalagi, kata dia, kalau alasan kenaikan hanya untuk keperluan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang terbebani oleh subsidi BBM.
"Saya sempat mendengar bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengatakan pemerintah sudah terlalu berat menanggung anggaran subsidi BBM, yang mencapai Rp 63 triliun,” katanya saat mempresentasikan makalah dalam Seminar Outlook Ekonomi tahun 2005 di Kuta, Bali, Senin (13/12).
Ternyata, lanjut Drajad, setelah diteliti lagi, angka
subsidi justru menurun dibandingkan 2001 yang berjumlah Rp 68 triliun. Jadi dari tiga tahun lalu, jumlah anggaran untuk subsidi BBM memang berkisar antara itu. “Tetapi, kenapa itu yang dijadikan alasan kenaikan," tanya dia.
Mestinya pemerintah melakukan beberapa penghematan anggaran. Dia mengambil contoh bagaimana pemerintah bisa menaikkan pendapatan dari penerimaan pajak dan cukai atas aktivitas ekonomi.
"Dari sini saja, sebenarnya ada Rp 300 triliun pajak dan cukai, yang bisa dikutip pemerintah.”
Jika pemerintah bisa memperoleh 25 persen dari jumlah tersebut--perhitungan yang sangat pesimistik--maka akan diperoleh pemasukan Rp 75 triliun.
Selain itu, tambah dia, jika produksi migas Indonesia bisa distabilkan pada kisaran 1,2 sampai 1,3 juta barel perhari, maka potensi untuk impor bisa dikurangi.
Jika keinginan kuat itu didukung oleh kesabaran untuk menunggu hingga musim panas di belahan bumi utara, yakni pada Juni hingga Agustus, maka harga minyak dunia kemungkinan akan turun hingga US$ 30 per barel. “Jadi untuk tahun depan harga BBM mestinya belum perlu untuk naik.”
Pada kesempatan itu, dia sempat memperingatkan bahwa setiap kenaikan BBM sebesar 1 persen, akan memacu inflasi sebesar 0,02 persen. "Nah, kalau
sekarang pemerintah berencana menaikkan 40 persen, hitung saja berapa inflasi yang akan naik. Belum lagi dampak sampingan yang akan timbul," tambah Drajad.
Deputi Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Hendar menjelaskan, harga minyak dunia diasumsikan akan turun dari rata-rata US$ 37 pada 2004 ini, turun menjadi US$ 36 pada tahun depan.
Penurunan ini, kata dia, karena volume produksi akan bertambah, dan di sisi lain konsumsi akan sedikit menurun. Untuk ekspor di bidang migas, Bank Indonesia memperkirakan tahun depan akan terjadi kenaikan sebesar 1,4 persen dibanding tahun ini yang mencapai 23,4 persen. Sedangkan untuk impor migas justru akan terjadi penurunan sekitar 5,4 persen, dari 43,8 persen pada tahun ini. raden rachmadi
INDEKS BERITA LAINNYA :
|