Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

Pengamat: Pemerintah Harus Cegah Inflasi Tinggi Akibat Kenaikan BBM
Sabtu, 11 Desember 2004 | 12:54 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah diharapkan bisa mencegah kenaikan inflasi akibat akan dicabutnya subsidi bahan bakar mintak (BBM). Menurut pengamat ekonomi INDEF Aviliani, kenaikan BBM hanya akan berdampak dua sampai tiga persen di bidang transportasi umum. "Namun yang sering terjadi dalam implementasi inflasinya mencapai 10 hingga 15 persen," kata Avi kepada Tempo di Menara Peninsula Jakarta, Sabtu (11/12).

Kenaikan tersebut, menurutnya, sering mengakibatkan terjadi kartel di tingkat pasar. Padahal diharapkan dengan pasar yang besar, tingkat kompetitif yang baik. Contohnya organisasi angkutan (Organda), yang sering membuat kesepakatan untuk menaikkan ongkos transportasi, padahal jumlah kenaikan dengan naiknya BBM tidak sebanding.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah melakukan tindakan tegas jika terjadi kenaikan tidak wajar di bidang transporatsi. "Untuk itu Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) harus segera bertindak jika terlihat harga tidak wajar," katanya.

Khusus untuk minyak tanah, Avi mengatakan, kenaikan paling besar lima persen. Sebab, data INDEF menyebutkan 80 persen pengguna minyak tanah adalah rakyat kecil.

Menyangkut distribusi, seharusnya pemerintah daerah diberi kewenangan menyalurkan ke masyarakat. Sedangkan pemerintah pusat, hanya memberikan kuota kepada tiap daerah sesuai dengan yang diajukan. "Ini juga bisa dijadikan indikator kinerja Pemda. Sehingga Pemda bisa dianggap gagal jika tidak berhasil dalam penyaluran ini," katanya.

Namun Avi mengakui, pencabutan subsidi memang harus dilakukan jika tidak ingin defisit APBN kian meningkat atau menambah utang luar negeri. "Tapi yang jelas ini harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu," katanya.

Sementara itu, pengamat minyak dan gas Bachrawi Sanusi mengatakan pencabutan subsidi BBM masih bisa dihindari. Dia beralasan keuntungan pendapatan BBM jauh lebih besar daripada subsidi yang diberikan.

Seandainya tetap dilakukan, kata Bachrawi, pemerintah harus mengalokasikan dalam pencarian sumber energi alternatif. "Pemerintah harus melihat sumber energi lain, seperti batu bara. Sebab masalah minyak dan gas ini, bukan dua tiga tahun, tapi jangka panjang," katanya.

Muchamad Nafi


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Subsidi BBM Diusulkan Disalurkan untuk Kredit UKM
Widya Purnama: Perundingan Kembali Dengan Exxon Berbasis Bisnis
YLKI: Kenaikan BBM 40 Persen Memberatkan Rakyat
Di Lombok Harga Minyak Tanah Tembus Rp 1250
Kenaikan BBM Tunggu Kepastian Harga Minyak 2005
Pemerintah Terus Kaji Kenaikan BBM
Pengusaha Menuntut Kompensasi Kenaikan BBM
Pemerintah Bahas Kenaikan Harga BBM dan Revisi RAPBN 2005
Faisal Basri: Pemerintah Harus Antisipasi Dampak Kenaikan BBM
Bappenas Godok Konsep Konversi Subsidi BBM
> selengkapnya...


Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data