|
Pertamina Diminta Seimbangkan Bisnis Hulu dan Hilir
Kamis, 09 Desember 2004 | 14:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan yang bergerak dibidang migas, yang sebagian besar sahamnya milik pemerintah, disarankan agar lebih menyeimbangkan bisnis hulu dan hilir. Ini dilakukan agar mendapatkan keuntungan yang optimal. Wahyudi Suhartono, Praktisi Industri Migas mengatakan hal tersebut dalam acara diskusi terbuka Mencari Format Pertamina baru di Jakarta, Rabu (9/12).
"Yang saya lihat selama ini bisnis Pertamina tidak seimbang antara kegiatan hulu dan hilirnya," kata Wahyudi Suhartono. Pertamina saat ini lebih banyak bergerak dalam bisnis hilirnya seperti dalam bisnis penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM). Binis seperti ini, tambahnya, sangat rentan terlebih jika harga minyak mentah semakin meningkat. "Seperti saat ini harga "crude oil" sudah menjadi US$ 50 per barel," kata Wahyudi yang juga sebagai Direktur PT Badak NGL, anak perusahaan Pertamina.
Wahyudi menilai bahwa Pertamina baru bisa kuat dan maju jika telah melakukan kegiatan yang terintegrasi antara hulu dan hilir. Dengan terintegrasinya kegiatan hulu dan hilir dapat memberi manfaat, memberi jaminan pasokan, dan distribusi BBM yang lebih merata.
Pada prisipnya, tambah Wahyudi, perusahaan migas harus seperti balon, ditekan disebelah kanan ada gelembung disebelah kiri. "Jadi tetap ada keuntungan dalam kondisi apapun," katanya.
Wahyudi mengatakan bahwa selama ini perusahaan-perusahaan minyak besar didunia melakukan keseimbangan bisnis antara hulu dan hilir. Bahkan ada yang menganggap sektor usaha hilir ini sebagai penunjang saja. Pertamina seharusnya lebih mengembangkan industri hilirnya seperti usaha untuk melakukan eksplorasi minyak. Seperti diketahui, sejak diberlakukannya Undang-Undang No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas, kewenangan Pertamina semakin dibatasi. Dengan adanya undang-undang ini Pertamina dimungkinkan untuk lebih mengembangkan kegiatan industri hulunya. Sebelumnya, Pertamina lebih banyak melakukan kegiatan hilir.
Muhamad Fasabeni--Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|