Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

Kebutuhan Investasi Bidang Kelistrikan US$ 30 Miliar
Selasa, 07 Desember 2004 | 19:39 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung: Kebutuhan investasi bidang kelistrikan Indonesia hingga 2010 mencapai US$ 30 miliar US. 50 persen dana tersebut dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik. Sedangkan sisanya untuk membangun jaringan transmisi dan distribusi listrik di wilayah Indonesia. "Memang tinggi sekali kebutuhan investasi (bidang kelistrikan) kita," kata Menteri Pertambangan dan Energi Purnomo Yusgiantoro ketika membuka Munas IX Asosiasi Kelistrikan dan Mekanikal Indonesia di Bandung, Senin (6/12) malam.

Menurut Purnomo, pemerintah berencana membagi pendanaannya. Sekitar 60 persen pembiayaan tersebut berasal dari APBN, pembiayaan PLN, pinjaman luar negeri seperti pinjaman multilateral diantaranya dari Bank Dunia, serta pinjaman bilateral. Sedangkan sisanya, 40 persen, pendanaan kelistrikan diharapkan dari pihak swasta.

Sebagai tahapan awal, menurut Purnomo, pemerintah berencana mengadakan Infrastructure Summit yang akan diselenggarakan 17-18 Januari 2005. Kegiatan tersebut diadakan untuk mengundang investor agar berinvestasi di Indonesia. Pemerintah mengharapkan agar investor yang datang pada saat itu bersedia berinvestasi di sektor ketenagalistrikan.

Purnomo membantah harga jual listrik di Indonesia yang menjadi penyebab investor enggan memarkirkan dana di bidang listrik. Tarif listrik Indonesia dinilainya sudah baik. Yang menjadi sumber masalah pada harga jual listrik di Indonesia disebabkan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Pada waktu sebelum krisis moneter melanda Indonesia harga jual listrik Indonesia US$ 7 sen. Harga tersebut jatuh ketika krisis hingga hanya US$ 2 sen.

Secara bertahap, menurut Purnomo, harga jual listrik akan terus dinaikkan sampai kembali pada harga jual sebelum krisis, yaitu US$ 7 sen. Nilai tersebut dapat dicapai ketika kurs rupiah terhadap dolar Amerika sekitar Rp 8.000 - 8.800.

Ahmad Fikri


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Terus Kaji Kenaikan BBM
15 Kontrak Baru Senilai US$ 3,5 Miliar Segera Ditandatangani
Industri TI Sumbang Investasi Rp. 9 triliun
Akibat Gempa Nabire, PLN Rugi Rp 5 Miliar
PLN Harus Kurangi Ketergantungan Terhadap Solar
Tarif Listrik Belum Naik
Pergantian Komisaris Pertamina Belum Dibahas
Konsorsium AGG dan Pemkot Kendari Tak Capai Kesepakatan
Dirjen Migas: Perlu Insentif Fiskal untuk Investor Migas
Kalbe Farma Bangun Pabrik Pengolahan Susu
> selengkapnya...


Referensi

Kasus Korupsi Prioritas Kerja 100 Hari Polri
PP RI No. 3 Tahun 2004 Tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara RI Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan ( Persero ) PT. Rajawali Nusantara Indonesia
Kepres RI No. 87 Thn.2003 Tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor Dan Peningkatan Investasi
UU RI No. 25 Tahun 2000 Tentang Program Pembangunan Nasional ( Propenas ) Tahun 2000-2004
> selengkapnya...

Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
PT PLN (Persero)
Bursa Efek Surabaya


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data