Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

BBM Naik, Upah Buruh Harus Dinaikkan
Sabtu, 04 Desember 2004 | 16:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dampak kenaikan bahan bakar minyak dengan adanya pencabutan subsidi akan membuat tingkat pengeluaran masyarakat menjadi membengkak. Efek berikutnya, kehidupan ekonomi masyarakat kecil menengah makin tertekan.

Pemberian subsidi langsung di bidang pendidikan dan kesehatan, serta pemberian kompensasi kenaikan upah buruh, harus dipikirkan oleh pemerintah. "Kebijakan kompensasi menaikkan upah buruh merupakan bagian dari kebijakan protektif mengurangi penambahan kemiskinan," kata Wahyu Susilo, Staf Program (Programmer Officer) Kemiskinan dan Millenium Development Goal International NGO Forum on Indonesian Development (Infid), Sabtu (4/12).

Dia menjelaskan, buruh merupakan kelompok masyarakat yang sangat sensitif terhadap dampak kenaikan BBM. Para buruh, tutur Wahyu, dalam memenuhi kehidupannya hanya bergantung pada upah minimal tetap yang diterima.
"Apabila kenaikan BBM ditetapkan, sedangkan upah tidak naik, kelompok ini sangat rentan menjadi semakin miskin," ujarnya.

Pengusaha yang keberatan kenaikan upah, menurut Wahyu, karena tingginya pungutan liar yang ditanggung. D
"Jika tidak ada pungutan liar yang menyebabkan biaya industri mahal, pengusaha menjadi punya ruang unuk menaikkan upah buruh," katanya.

Sedangkan Sofyan Wanandi, pengusaha sekaligus Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia, merasa tidak keberatan dengan pencabutan subsidi BBM, terutama dengan kompensasi pemerintah dalam mengatasi biaya tinggi akibat pungutan liar.

Dia juga menekankan agar selama masa transisi pencabutan BBM pemerintah mesti memperhatikan kelancaran distribusi BBM. "Jangan sampai industri kesulitan mendapatkan bahan bakar karena ada penimbunan BBM oleh kelompok yang mengambil kesempatan," ujarnya.

Yuliawati-Tempo News Room


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Universitas Gorontalo Terpaksa Diliburkan
Pedagang Pasar Tanah Abang Kecam PD Pasar Jaya
Muhammadiyah Desak Pemerintah Tuntaskan Kasus Munir
Penyiaran Butuh Lembaga Independen
PLN Harus Mengurangi Ketergantungannya pada Solar
Pemerintah Bahas Kenaikan Harga BBM dan Revisi RAPBN 2005
"Kasus Kematian Munir Kriminal"
Poltabes Pekanbaru usut kematian korban mutilasi
PRT Sekarat Dibacok di Tangerang
Wapres: Subsidi BBM Dicabut Tahun Depan
> selengkapnya...


Referensi

Keppres RI No. 10 Tahun 2001 Tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Bidang Pertanahan
UU RI No.25 Thn.1999 Tentang Pertimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
UU RI No.22 Thn.1999 Tentang Pemerintahan Daerah
> selengkapnya...

Website

Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina
Departemen Dalam Negeri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Yenny Wahid Bantah Klaim Yusril Didukung Gus Dur
Olimpiade Paralimpik Dibuka dengan Meriah
Christopher Terhenti di Final AS Terbuka
Marcos Senna, Terbaik La Liga Musim 2007/08
Mencontreng atau Mencoblos Ditentukan September Ini

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data