Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Bappenas Godok Konsep Konversi Subsidi BBM
Selasa, 30 November 2004 | 19:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sedang menggodok konsep konversi penyaluran subsidi bahan bakar minyak.

"Sejauh ini yang dianggap baik melalui pemberian bea siswa," kata Deputi Kepala Bappenas Soekarno Wirokartono di Jakarta kemarin.

Menurut Soekarno pemberian subsidi melalui bahan bakar tidak tepat sasaran. Sebab yang menikmati harga murah bahan bakar minyak itu sebagian besar malah golongan menengah ke atas.

Kajian Bappenas menunjukan 40 persen kelompok masyarakat berpenghasilan rendah hanya mengkonsumsi 16 persen bahan bakar minyak. "Sementara 80 persen bahan bakar dipakai oleh 60 persen kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi," kata Soekarno.

Untuk itu Bappenas kini sedang mengkaji menyalurkan anggaran subsidi bahan bakar secara langsung ke masyarakat miskin. Pemberian beasiswa dinilai paling tepat dan langsung dinikmati masyarakat miskin untuk menyekolahkan anaknya dari sekolah dasar hingga menengah pertama.

Tahun ini alokasi anggaran dari pengurangan subsidi BBM disalurkan untuk bea siswa sebesar Rp 10 ribu per siswa per bulan. Jika tahun depan subsidi dikurangi, kata Soekarno, maka anggarannya akan dipakai menambah beasiswa itu. "Bisa dinaikkan menjadi Rp 20 ribu per siswa per bulan," katanya.

Soekarno menjelaskan bea siswa sebesar Rp 10 ribu sebulan tak lagi mencukupi untuk biaya pendidikan di daerah. Dalam perhitungan Bappenas, jika subsidi minyak sebesar Rp 50 triliun yang sekarang dialokasikan dipakai untuk bea siswa maka kelompok miskin akan terbantu biaya pendidikan selama sepuluh tahun.

Survei Bappenas juga memperoleh data bahwa kelompok masyarakat miskin hanya menghabiskan biaya hidup sebesar Rp 200 ribu per tahun. "Kalau dinaikkan hingga Rp 2 juta saja taraf hidupnya bisa lebih baik," kata Soekarno.

Namun, Bappenas menemukan kendala belum adanya data yang akurat jumlah masyarakat miskin yang benar-benar berhak atas subsidi. "Sampai sekarang tidak ada data yang pasti," kata Soekarno. bagja hidayat

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bappenas Segera Selesaikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Wapres: Subsidi BBM Dicabut Tahun Depan
Defisit APBN 2005 Diperbesar Jadi 1 Persen
Subsidi BBM Dihapus Tahun 2010
Bappenas Tingkatkan Daya Serap Utang Luar Negeri
Bappenas Pertahankan Defisit APBN
Komisi Penanggulangan Kemiskinan Fokuskan Pada Lima Program
Presiden Isyaratkan Tidak Akan Naikkan Harga BBM
Sidang Kabinet Bahas Program 100 Hari Pertama
Kwik Serahkan Jabatan Menteri Bapenas
> selengkapnya...


Website

PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD
Indonesia Diminta Garap Energi Iran
Calon Haji Samarinda Mengantre Lima Tahun

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data