Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

Bank Global Bantah Di-Rush Nasabah
Selasa, 30 November 2004 | 02:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Manajemen PT Bank Global Internasional Tbk. membantah adanya isu rush atau penarikan dana yang dilakukan oleh nasabah terhadap bank ini.

"Isu tersebut tidak benar," kata Sekretaris Perusahaan Bank Global Iman Santosa dalam penjelasan kepada Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Menurut dia, pihaknya telah memberi penjelasan maupun informasi yang memadai kepada para nasabah mengenai kondisi bank ini. Posisi Bank Global sampai saat ini tetap baik. Kinerja bank sampai September 2004 dikategorikan sangat baik, yang terlihat dari sejumlah indikator seperti rasio cukupnya modal 44,8 persen, rasio kredit bermasalah 0,95 persen, serta kenaikan laba bersih 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Presiden Direktur Bank Global Irawan Salim juga membantah informasi bahwa nasabah bank ini kesulitan mencairkan dananya. "Kami justru baru mendengar kabar itu dari Anda," ujar Irawan kepada Tempo.

Irawan justru balik bertanya ketika dimintai konfirmasinya,. Dia mengaku, sama sekali tidak menjual produk Prudence yang diresahkan oleh beberapa orang yang mengaku sebagai nasabah Bank Global.

Menurut dia, Bank Global hanya menjual obligasi berjangka waktu lima tahun dengan suku bunga 14,5 persen. "Obligasi tersebut dicatatkan di Bursa Efek Surabaya dan bisa diperjualbelikan," papar Irawan.

Irawan juga membantah kabar bahwa bank sentral telah memasukkan Bank Global ke dalam pengawasan intensif karena modalnya pada November ini menurun hingga di bawah 8 persen.

Menurut Irawan, sangat tidak mungkin jika modal bank ini turun drastis dari 44,8 persen menjadi di bawah 8 persen hanya dalam waktu beberapa bulan. "Itu sangat tidak mungkin karena bedanya jauh sekali. Apalagi NPL Bank Global hanya 0,95 persen."

Dalam beberapa hari ini, sejumlah nasabah Bank Global menyampaikan keresahannya kepada Tempo. Pasalnya, para nasabah itu belum bisa mencairkan dana yang disimpan dalam produk bernama Prudence yang dijual melalui bank itu.

Yudi Tjandramulia, nasabah Bank Global Cabang Tanah Abang, menjelaskan bahwa beberapa anggota keluarganya yang menjadi nasabah Bank Global resah karena produk Prudence yang dimilikinya belum dapat dicairkan kendati sudah jatuh tempo. Sebagai gantinya, nasabah Bank Global mau tidak mau harus rela memperpanjang tenor produk yang sudah jatuh tempo itu.

"Ada yang sudah jatuh tempo 24 November, tapi diperpanjang jadi 24 Desember. Saat itu ada kemungkinan baru bisa dicairkan," kata Yudi.

Yudi mengaku, tidak tahu penyebab belum dapat dicairkannya dana miliknya itu. Dia hanya mengatakan, nasib depositonya di Bank Global yang semula ingin ditutup juga terpaksa harus diperpanjang tenornya hingga 22 Desember dari semula 22 November 2004.

Menurut dia, semula dirinya akan memperpanjang masa tenor depositonya satu bulan saja menjadi 22 Desember. Namun, karena mendengar soal rebut-ribut Bank Global ini, dirinya ingin agar depositonya dibatalkan. "Tapi Bank Global malah memperpanjang deposito itu sampai ke 3 Januari 2005. Saya tidak mau. Akhirnya saya hanya mau diperpanjang menjadi 22 Desember."

Sementara itu, nasabah Bank Global lainnya yang meminta identitasnya disembunyikan mengungkapkan, keluarganya ingin mencairkan produk Prudence senilai Rp 700 juta yang jatuh tempo pada 22 November ke Bank Global. Namun, keluarganya gagal mencairkan karena masa jatuh tempo harus diperpanjang hingga 22 Desember.

"Padahal, kami inginnya cair saat itu (22 November). Tapi mau bagaimana lagi? Kami berharap nanti bisa dicairkan," ujarnya.

Anna Lukman, nasabah Bank Global Cabang Sunter yang dihubungi, mengaku belum mendengar soal sulitnya mencairkan dana. Dia mengatakan, sejauh ini justru transaksi di Bank Global masih berjalan normal dan baik. "Coba nanti saya cek dengan teman-teman," ujarnya.

Nasabah Bank Global lainnya juga tidak melihat ada masalah di Bank Global. Dia yakin bisa mendapatkan haknya, kendati produk Prudence untuk sementara belum dapat dicairkan. Selama ini, kata dia, manajer investasi tidak ada masalah. "Kami yakin tidak ada masalah. Jadi, tak perlu dibesar-besarkan," kata nasabah itu.

Ketika Tempo mencoba mendatangi kantor pusat Bank Global di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada pukul 15.15 kemarin, kantor ternyata sudah tutup. Namun, tampak sekitar 10-15 orang berbadan tegap dan berkulit hitam berjalan mondar-mandir di lobi.

Menurut seorang petugas kebersihan di gedung itu, sekelompok orang itu telah berada di sini sejak Jumat pekan lalu untuk berjaga-jaga di Bank Global. "Saya dengar nasabah kesulitan mencairkan dananya, terutama yang di atas Rp 1 juta. Bahkan ada yang menangis," ujar petugas kebersihan tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo dari pejabat bank sentral, CAR Bank Global menurun drastis sehingga dimasukkan ke dalam pengawasan intensif.

Informasi lainnya menyebutkan bahwa Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada awal November telah memutuskan Unit Investigasi BI sudah saatnya masuk ke bank ini, karena ada dugaan pidana di bank ini.

Meskipun demikian, Direktur Pengawasan Bank BI Sabar Anton Tarihoran enggan memberi komentar mengenai Bank Global ini. "Anda tanya saja kepada orang-orang di kantor," ujarnya mengelak.

Padjar Iswara/Yuliawati/Heri Susanto/Anne L. Handayani - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

“BI Harus Tingkatkan Penggunaan Mata Uang Lain untuk Cadangan Devisa”
BI Pastikan Penjualan Indover Selesai Akhir Tahun Ini
BI Perkirakan Kurs Tetap Rp 9.000 Pada 2005
BI Luncurkan Uang Baru Pecahan Rp 20 Ribu dan Rp 100 Ribu
BI Tak Akan Longgarkan BMPK untuk Penuhi Kebutuhan Dolar Pertamina
Bank Indonesia Minta Otoritas Bursa Genjot Investor Lokal
BI: Penerbitan Obligasi Internasional US$ 1,5 Miliar Cukup Realistis
BI: 34 Bank Siap Terapkan Manajemen Risiko
BI Terapkan Batasan CAR 12 Persen Pada 2010
BI: Perlu Kerja Keras untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi
> selengkapnya...


Referensi

Profil Miranda Swaray Goeltom
Profil Burhanuddin Abdullah
Latar Belakang Perusahaan Pengelola Aset Negara (PPA)
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 1 Tahun 2004 Tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
PP RI No. 47 Tahun 2001 Tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 17 Tahun 1999 Tentang Badan PenyehatanPerbankan Nasional
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data