Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

Pemerintah Tetap Akan Pertimbangkan Risiko Bank yang Biayai Infrastruktur
Senin, 29 November 2004 | 20:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Tim Pembiayaan Infrastruktur Raden Pardede mengatakan, pemerintah tetap akan mempertimbangkan besarnya risiko yang kemungkinan akan dihadapi perbankan, jika membiayai proyek infrastruktur.

Pemerintah akan melihat seberapa besar kemampuan bank-bank dalam membiayai kredit ke proyek infrastruktur. Saat ini tim yang dia pimpin sedang melakukan kajian tentang bagaimana dan opsi apa saja yang akan dipakai untuk menetapkan bank-bank yang boleh memberi kredit infrastruktur.

“Bisa saja bank itu nanti dari dalam atau luar negeri. Tapi pemerintah berharap sifatnya investasi langsung,” kata Raden.

Raden belum bisa menyebutkan besarnya biaya dari perbankan yang diperlukan pemerintah untuk pembiayaan proyek infrastruktur ini. “Saya belum tahu jumlah pastinya, karena semua masih dalam kajian,” katanya. Namun, menurut Raden, bila sesuai dengan pemberitaan di media masa besarnya dana perbankan untuk membiayai proyek infrastruktur ini mencapai Rp 780 triliun.

“Biaya ini masih bisa lebih, bila ditambah dengan proyek telekomunikasi, listrik, pelabuhan udara, dan pelabuhan laut. Mungkin bisa sampai Rp 800 triliun,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta kalangan perbankan nasional membantu mendanai program percepatan pembangunan infrastruktur, karena pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan mengandalkan pinjaman luar negeri sering membuat nilai proyek menjadi sangat mahal.

Menurut Wakil Presiden, selama ini banyak dana perbankan tidak diinvestasikan pada sektor-sektor yang produktif.
Padahal, dana bank-bank dalam negeri yang diparkir di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) nilainya mencapai sekitar Rp 200 triliun.

Selain itu, dia juga menunjuk masih rendahnya rasio pinjaman terhadap simpanan yang rata-rata baru mencapai sekitar 50 persen. “Dana-dana itu kan idle, tidak terpakai,” katanya.

Erwin Dariyanto - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Realisasi Defisit APBN Perubahan Rp 24,9 Triliun
Subsidi BBM Sampai November Rp 46 Triliun
Jepang Kucurkan Pinjaman 27,5 Miliar Yen
Pemerintah Minta Departemen Segara Serahkan Dana Non-budgeter
Pemerintah Paksa Badan Tiga Orang Direksi Karaha Bodas
Kapolri: Kelompok Lama, Pelaku Pemboman Poso
Faisal Basri: Pemerintah Belum Berikan Tax Amnesti
Defisit Anggaran Sampai Oktober Rp 2,7 triliun
Pemerintah Sedang Susun Rancangan Penghapusan Buku Mutlak
BI Akan Bentuk Biro Informasi Kredit Terintegrasi
> selengkapnya...


Referensi

Perjalanan BPPN dari Waktu ke Waktu
Status Pengutang BPPN
Profil Iwan Prawiranata
Profil Glen Yusuf
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 16 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Tim Pemberesan Badan Penyehatan Perbankan Nasional
Keppres RI No. 3 Tahun 2004 Tentang Sistem Kepegawaian Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data