|
Nusa
Pangdam Aceh Akui Pembinaan Prajurit Masih Lemah
Minggu, 28 November 2004 | 03:30 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya mengakui pembinaan terhadap prajurit TNI yang bertugas di Aceh masih kurang intens. Pengakuan itu terkait bentrokan bersenjata antara TNI dan pasukan Brimob di Aceh Timur.
“Harus diakui, pembinaan terhadap anak-anak (prajurit) memang kurang intens karena selama ini kami sibuk operasi. Ini memang tidak bisa dijadikan alasan. Tapi bagaimanapun, itu harus diakui,” kata Endang kepada wartawan dalam temu pers di Banda Aceh, Sabtu (27/11).
Saat peristiwa itu terjadi, kata Endang, Komandan Batalyon dan Komandan Kompi Yonif 111 Batalyon Infantri 111 Karma Bhakti sedang bertugas di Aceh Selatan. Akibatnya, pengawasan terhadap para prajurit menjadi berkurang.
Pasca bentrokan yang terjadi pada Kamis (25/11) lalu, Endang melarang prajurit TNI dari Batalyon Infantri 111 Karma Bhakti, Kompi Senapan B, Peudawa, Aceh Timur, keluar dari markas mereka. Selain itu, dia juga sudah menggudangkan senjata prajurit dari kesatuan itu.
Dari 25 anggota TNI yang terlibat bentrokan, 24 diantaranya kini ditahan di markas Denpom I Iskandar Muda Lhokseumawe, Aceh. Sedangkan seorang lagi belum diketahui keberadaan. “Seorang lari sepertinya melarikan diri karena takut, sedangkan senjatanya dititipkan kepada temannya,” tutur Endang.
Dia mengaku belum mendapat laporan rinci dari tim yang diturunkan untuk mengusut kasus itu. Hanya saja, kata dia, bentrokan tersebut dipicu aksi sweeping yang digelar anggota Brimob pada bulan Ramadhan lalu.
Ketika itu, anggota Brimob menghentikan dua personil TNI yang sedang melintas dengan menggunakan kendaraan roda dua. “Entah bagaimana kemudian terjadi pertengkaran mulut,” kata Endang.
Merasa tidak senang dengan kalimat bernada tidak sopan yang diucapkan anggota Brimob, anggota TNI lantas melapor ke kesatuannya. “Ini sebenarnya persoalan lama. Kami juga terkejut kenapa bisa seperti ini,” ujarnya.
Sekitar 25 anggota TNI kemudian mendatangi pos Brimob di Desa Seuneubok Bace, kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Saat itu, anggota TNI sempat masuk ke pos Brimob dan berdialog. “Saya tidak yakin itu penyerangan. Karena kalau penyerangan langsung tembak. Tapi ini kan mereka sempat berdialog dulu.”
Aksi bentrokan itu, kata Endang, baru pertama kali terjadi di Aceh. Karena itu, ia menyesalkan sikap para prajurit yang tidak dapat menahan diri dalam menyelesaikan masalah. “Ini kan masalah sepele yang muncul dari arogansi prajurit muda di lapangan” ujarnya.
Dalam jumpa pers yang juga dihadiri Kapolda Aceh Irjen Polisi Bachrumsyah Kasman, Endang meminta maaf kepada Kapolda dan jajaran Polri atas peristiwa itu.
Bachrumsyah pada kesempatan tersebut mengatakan selain korban tewas, tiga prajurit yang terluka hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Langsa. “Hingga tadi malam kondisinya sudah kembali normal dan tim yang diturunkan juga sudah duduk bersama untuk mencocokkan hasil temuan mereka,” kata Bachrum.
Mengenai tindakan hukum terhadap personil Brimob yang terlibat dalam bentrokan itu, Bachrum mengatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap para prajurit yang terlibat. (yuswardi a. Suud)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|