|
Ekonomi dan Binsis
Pelindo Bangun Proyek Air Bersih di Belawan
Jum'at, 26 November 2004 | 19:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) dan Metito Indonesia membangun infrastruktur dan pasokan air bersih untuk fasilitas pelabuhan dan kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Belawan, Dumai dan Tanjung Balai Karimun.
Penandatanganan kontrak kerja sama tersebut disaksikan oleh Menteri Negara BUMN Sugiharto, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, direksi BUMN dan sejumlah pimpinan perusahaan swasta lainnya di Jakarta, Jumat (26/11).
Kebutuhan air minum di daerah pelabuhan semakin meningkat, di sisi lain air tanah di kawasan tersebut banyak mengandung air asin. Karena itu perlu dipikirkan meningkatkan pelayanan dengan menyediakan air sehat di pelabuhan.
Untuk penyediaan air sehat ini, Pelindo bekerja sama dengan Metito yang merupakan anak dari Metito Overseas Ltd.
Teknologi pengolahan air asin/laut menjadi air minum sehat merupakan proyek pertama bagi Pelindo. Proyek ini, ditinjau dari jumlah investasi, memang tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar, sekitar Rp. 73,8 miliar. Namun ini membuktikan bahwa investor asing tetap percaya dengan Indonesia.
Kontrak ini meliputi desalinasi dan teknologi pengolahan air bersih dan proses perancangan, membangun, mengoperasikan dan kemudian menyerahkan seluruhnya (built own operate and transfer/BOOT) kepada Pelindo I. "Metito akan menanamkan modal 100 persen dan Pelindo memberikan konsesi selama 14 tahun," ujar Chairman Metito Overseas LTd, Mutaz Ghandour.
Tujuan proyek ini adalah untuk menarik perhatian kapal-kapal asing agar datang dan berlabuh pada ketiga pelabuhan tersebut. Hal ini akan banyak memberikan keuntungan kepada pelabuhan dan menambah penghasilan Pelindo I dari hasil penjualan air kepada kapal-kapal.
"Hingga saat ini kapal-kapal asing harus ke Singapura dan jarang berlabuh pada tiga pelabuhan tersebut, karena tidak ada air bersih," kata Ghandour.
Jumlah total air laut yang akan didesalinasi menjadi air bersih tergantung dari kebutuhan masing-masing kota. Pelabuhan Belawan dapat mendesalinasikan 500 meter kubik air laut per jam, sedangkan di Dumai 120 meter kubik per jam dan di Tanjung Balai Karimun hanya 80 meter kubik per jam.
Biaya produksi pun dari tahun ke tahun mengalami perubahan seiring dengan berubahnya teknologi agar lebih efisien. "Dulu kami membeli air laut US$ 3 per meter kubik, sekarang hanya US$ 1,2 per meter kubik," kata Ghandour.
Dalam kerja sama BOOT ini kedua pihak tidak ada yang dirugikan. "Inilah keindahan dari BOOT, dalam partnership ini dua-duanya untung" kata Ghandour. Hal ini merupakan jaminan untuk meng-up-date teknologi yang dipergunakan dari tahun ke tahun.
nofi triana firman
INDEKS BERITA LAINNYA :
|