Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Swasembada Beras Masih Labil
Kamis, 25 November 2004 | 23:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tahun ini merupakan tahun pertama sejak 1984 Indonesia swasembada beras. Namun, situasi yang menggembirakan ini masih dalam kondisi yang labil.

”Penyebab labilnya posisi swasembada beras nasional ini karena beberapa hal,” kata Siswono Yudohusodo, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia di Gedung JDC (Jakarta Design Center) di Jakarta (25/11).

Pertama, masih terus tejadinya alih fungsi lahan akibat tata ruang yang kurang tegas. Kedua, perluasan kota yang tak terkendali. Ketiga, masih berlangsungnya fragmentasi lahan yang membuat lahan menyempit. Keempat, pemeliharaan irigasi dan pembangunan infrastruktur pertanian yang tidak memadai. Kelima, rusaknya daerah aliran sungai akibat pembabatan hutan di daerah hulu. Keenam, perencanaan program perluasan areal pertanian yang belum baik. Ketujuh, penanganan pasca panen yang belum baik. Kedelapan, lambatnya perluasan penggunaan bibit unggul.

Disamping itu masih adanya dominasi sentra produksi pangan nasional di Pulau Jawa yakni padi (56 persen), jagung (60persen), kedelai (70 persen), daging sapi (62 persen), daging ayam (70 persen), telur ayam (50 persen), susu (90 persen), dan tebu (67 persen).

Menurut Siswono setelah tahun 1984, Indonesia malah menjadi negara importir terbesar di dunia dengan angka impor yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tanpa langkah-langkah sistematis, kondisi swasembada sekarang ini, Indonesia masih berpotensi untuk kembali menjadi negara importir beras yang besar.

Pada kesempatan tersebut Siswono juga menyarankan agar pemerintah mewaspadai terlambatnya hujan akhir tahun ini yang mungkin beraikibat adanya akumulasi hujan pada awal tahun 2005.

Hal tersebut bisa menimbulkan banjir. Hujan yang deras dan angin yang kencang juga mengakibatkan meledaknya penyakit tetelo (NCD= new castle desease) dan flu burung pada ayam/unggas.

Menurut Siswono, Departemen Pertanian dan Pemda agar bersiap-siap untuk membantu harga pupuk akibat naiknya harga BBM. Disamping itu saat ini harga pupuk di luar negeri yang mahal dengan disparitas harga 50 US$/ton (harga pupuk bersubsidi 120 US$/ton, tanpa subsidi 160 US$/ton, dan harga di luar negeri 210 US$) akan mengakibatkan banyak pupuk yang diekspor dan diselundupkan.

Pengusaha jelas akan terpikat untuk menyelundupkan pupuk ke luar negeri atau ekspor secara illegal. Pupuk akan menjadi langka dan produksi padi akan menurun.

Pemerintah juga perlu menyempurnakan UU No.5/1960 tentang Undang-undang Pokok Agraria berdasarkan TAP MPR No IX/2001 tentang Reforma Agraria karena dengan adanya UU tersebut petani sulit untuk memperluas lahan usahanya.



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tahun Ini Indonesia Swasembada Beras
Presiden Berikan Penghargaan Ketahanan Pangan 2003


Referensi

UU RI No.7 Thn.1996 Tentang Perlindungan Pangan
PP RI No.68 Thn 2002 Tentang Ketahanan Pangan
Kepres RI nomor 132 Tahun 2001 Tentang Dewan Ketahanan Pangan

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data