|
Ekonomi dan Bisnis
Daerah Krisis Listrik Tinggal 10
Selasa, 23 November 2004 | 19:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Daerah krisis listrik di Indonesia semakin berkurang dengan diresmikannya interkoneksi di wilayah Sumatera.
"Daerah krisis sudah berkurang yang tadinya di atas 20 sekarang tinggal 10 daerah," kata Luluk Sumiarso, Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral usai mengikuti Kongres Energi Selasa (23/11).
Dia mengatakan bahwa selama ini PLN telah secara serius menangani daerah-daerah krisis. Terlebih beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan interkoneksi Sumatera bagian selatan yang menghubungkan Sumatera Selatan, Barat dan Bengkulu. "Mudah-mudahan ini bisa memperbaiki penyediaan tenaga listrik di wilayah tersebut," tambah Luluk.
Sebelumnya, krisis energi listrik melanda Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Jambi sejak 11 Juni 2004 akibat penurunan elevasi air pada sejumlah pembangkit listrik tenaga air dan kerusakan pada pembangkit listrik di Sumatera.
Penurunan elevasi air terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Singkarak dan PLTA Maninjau. Krisis listrik diperparah oleh rusaknya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin Unit I dan II di Kota Sawahlunto. Akibatnya, setiap hari di hampir setiap kota/kabupaten di Sumbar terjadi pemadaman bergilir.
Presiden sebelumnya telah meresmikan tiga pembangkit listrik di Sumatera dengan kapasitas terpasang 154 MW untuk mengurangi terjadinya krisis listrik. Peresmian dipusatkan di PLTG Borang yang terletak di Desa Merah Mata, kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Peresmian ini dilakukan pada tanggal 9 November. Ketiga pembangkit listrik ini semuanya menggunakan gas. Ketiganya adalah PLTG Borang dengan kapasitas 100 MW di kabupaten Banyuasin, PLTG Indralaya II dengan kapasitas 40 MW di kabupaten Ogan Ilir, dan PLTG Palang Dukuh dengan kapasitas 14 MW di kabupaten Musi, Banyuasin.
Selain itu, juga diresmikan jaringan tranmisi 150 KV Lubuk Linggau-Bangko. Jaringan transmisi sepanjang 390 km tersebut nilai investasinya sebesar Rp 364,2 miliar. Jaringan ini merupakan bagian dari jaringan Saluran Udara Tekanan Tinggi (SUTT) yang berfungsi sebagai interkoneksi sistem kelistrikan Sumatera Barat-Riau dan Sumatera bagian selatan melewati perbatasan provinsi Jambi.
Pembangunan transmisi Lubuk Linggau-Bangko ini, merupakan bagian dari rencana pembangunan interkoneksi Sumatera yang sebagian telah diselesaikan pada tahun 2003 sepanjang 1833 km dengan total nilai investasi Rp 1,25 triliun. (muhamad fasabeni)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|