|
Ekonomi dan Bisnis
Harga Elpiji Akan Naik
Senin, 22 November 2004 | 17:56 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pertamina berencana menaikkan harga jual elpiji dalam dua tahap. Harga yang akan ditetapkan masih dalam pembahasan dan dipastikan tidak akan lebih dari Rp 5 ribu per kilogram.
"Kami masih menghitung berapa harga yang layak dan kapan. Kalau sudah cocok kami akan sampaikan kenaikan ini dalam dua tahap," kata Achmad Faisal, General Manajer Unit Gas Domestik Pertamina, Senin (22/11).
Mengenai besarnya kenaikan, tambah Faisal, secara resmi akan disampaikan oleh Direktur Pemasaran Pertamina.
Selama ini, Pertamina sudah tidak kuat lagi menanggung kerugian terlebih dengan semakin meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia. Sejak bulan Maret hingga Oktober harga elpiji terus naik dari US$ 367 per metrik ton menjadi US$ 443,50 per metrik ton.
"Bahkan kemarin terakhir beli dari Singapura US$ 512 per metrik ton, itu terima di pelabuhan belum biaya distribusi dan biaya pemasaran," tandasnya.
Dengan harga terakhir dari Singapura, jelas Faisal, bila dijual dengan harga Rp 7.500/kg pun masih rugi, tapi Pertamina tidak akan menaikkan hingga Rp 5.000/kg. Terlebih untuk harga elpiji di Batam, Pertamina mengalami kerugian besar sebab semuanya (100 persen) impor. Jika selama ini harga berkisar Rp 3.000/kg maka di Batam dengan harga impor saat ini harus menanggung kerugian Rp 2.000 untuk setiap kilogram elpiji.
Sedangkan kerugian rata-rata elpiji Pertamina di seluruh Indonesia minus Batam sebesar Rp 820 per kg. Ini disebabkan pasokan elpiji diluar Batam, jelas Faisal, komposisinya 73 persen eks kilang Pertamina, 16,9 persen dari Contract Production Sharing (KPS) dan 10 persem impor.
"Yang diambil dari KPS ini juga merupakan harga berdasarkan standar internasional yang di kenal dengan cost price Aramco yang menjadi patokan dunia. Hanya sedikit berbeda dari harga distribusi," kata Faisal.
Dia juga membandingkan dengan harga elpiji di beberapa negara seperti Pakistan. Saat harga elpiji Indonesia masih Rp 3.000/kg, di sana Rp 6.141/kg. Sedangkan di Filipina Rp 5073/kg, Vietnam (Rp 5.000/kg), dan Malaysia (Rp 3.929/kg). "Ini semua pada saat harga crude oil di bawah US$30 per barel. Jadi pertamina sudah tidak kuat lagi menanggung kerugian," tutur Achmad Faisal. (muhamad fasabeni/TNR)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|