Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

BI Targetkan Kurs Tetap di Bawah Rp 9.000 per Dolar
Sabtu, 20 November 2004 | 18:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia menargetkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar tetap berada di bawah Rp 9.000 hingga akhir tahun. Hanya saja, target itu disertai catatan, Indonesia bisa mempertahankan kondisi makro serta dolar tetap melemah terhadap mata uang asing dunia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin mengatakan, saat ini fundamental ekonomi Indonesia cukup kondusif sebagai momentum mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. "Jadi peluang di bawah Rp 9.000 itu masih tetap terbuka," katanya saat acara silaturahmi di kediamanannya, Jakarta, Sabtu (20/11).

Menurut Aslim, menguatnya nilai tukar dolar ini ditopang pula kecenderungan melemahnya dolar Amerika. Kondisi dolar itu mempercepat penguatan rupiah. Amerika, katanya, sedang menghadapi current account serta bujet defisit. Situasi itu antara lain dipicu untuk terpilihnya kembali Presiden George Bush, yang meningkatkan sentimen negatif terhadap Amerika dan dolar. "Itu terefleksi kepada penguatan mata uang lain," katanya.

Di sisi lain, persediaan dolar juga masih mencukupi kebutuhan perusahaan di Indonesia. Kata Aslim, naik-turunnya rupiah bisa dipengaruhi permintaan dan penawaran terhadap dolar dari perusahaan swasta atau perusahaan negara. Permintaan perusahaan di Indonesia sendiri masih sangat tinggi terhadap dolar.

Aslim mencontohkan, Pertamina misalnya, setiap bulannya rata-rata membutuhkan US$ 800 juta yang dibeli di pasar dalam negeri. "Tapi sepanjang suplainya ada, walaupun ada permintaan besar itu kan tidak akan mempengaruhi," ucapnya.

Hingga saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar berada pada kisaran Rp 8995 per dolar. Kisaran ini, kata Aslim masih bisa diterima oleh eksportir dan importir di Indonesia. "Kalau dilihat kalau dari sisi ekportir mereka untungnya cukup bagus, sementara sisi importir juga bisa diterima karena mereka dapat mengimpor bahan baku tidak terlalu mahal," katanya.

Aslim berpendapat, menguatnya nilai rupiah ini juga akan meningkatkan cadangan devisa Indonesia. Namun, dia tidak menyebutkan berapa jumlah kenaikan cadangan devisa ini.

Hingga Oktober ini, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 34,98 miliar. Indonesia mempunyai mata uang dasar atau base currency dengan dolar Amerika. "Justru malah nilai cadangan devisa akan lebih tinggi dalam dolar. Kecuali kalau kita menjadikan base currency-nya Euro," kata dia.

Yandi M.R. - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

DPRD Siantar BerhentikanWali Kota dan Wakilnya
Taksi Terbakar di Jalan MT Haryono
Presiden Diminta Beri Sanksi Heru Lelono
Selasar Sunaryo Gelar 'A Decade Of Dedication'
Penyidikan Korupsi PT Telkom Senilai Rp 110 Miliar Terancam Macet

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data