Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kabinet Indonesia Bersatu Belum Putuskan Nasib AAF
Rabu, 17 November 2004 | 21:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah masih belum mengambil keputusan final mengenai jadi tidaknya membuka kembali pabrik pupuk ASEAN Aceh Fertilizer (AAF). Sidang kabinet terbatas yang digelar hari ini mengenai perpanjangan status darurat sipil di daerah tersebut, tidak membahas mengenai pabrik itu.

“Sidang Kabinet pekan lalu memang membahas soal, tapi sekarang tidak,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, usai rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta.

Meski tidak dibahas, kata Purnomo, keputusan pemerintah tetap seperti dahulu, yaitu hanya akan mempertahankan dua pabrik pupuk saja di Aceh. “Tapi itu (keputusan) belum selesai, karena pertemuan hari ini yang ditekankan hanya masalah jadi tidaknya perpanjangan darurat sipil.”

Karena itu, belum ada kepastian apakah pemerintah jadi akan membuka kembali atau tetap menutup pabrik pupuk AAF. Menurut Purnomo, pilihan itu masih terbuka dengan berbagai kemungkinan, yaitu apakah pemerintah nanti tetap mempertahankan AAF dan PT Pupuk Iskandar Muda I (PIM I ) atau mempertahankan AAF dan Pupuk Iskandar Muda II (PIM II). “Atau bisa juga PIM I dan PIM II aja, tapi ini belum diputuskan,” katanya.

Sampai hari ini, belum ada keputusan final dari pemerintah mengenai kombinasi mana yang dikembangkan. Sedangkan untuk jangka pendek, hingga akhir kuartal pertama tahun depan pemerintah akan memberikan pasokan gas Arun kepada AAF dan PIM I saja karena PIM II rusak.

Untuk jangka panjang, pemerintah berniat mengembangkan lapangan gas Blok A di Lhokseumawe. Cadangan gas di lapangan itu cukup untuk memasok gas dua pabrik pupuk saja di Aceh selama 12 tahun. Namun, hingga saat ini pemerintah belum juga mencapai kesepakatan komposisi bagi hasil dengan Conocophillips, kontraktor pengembang lapangan tersebut.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri telah memutuskan menutup pabrik AAF. Alasannya, terjadi krisis pasokan gas dari lapangan Arun yang selama ini memasok gas untuk ketiga pabrik pupuk di Aceh.

Melalui keputusan Sidang Kabinet, pemerintahan waktu itu memilih untuk menutup AAF, dengan pertimbangan usia pabrik pupuk yang ditutup, AAF usianya paling tua.

Belakangan Kabinet Indonesia Bersatu meninjau ulang keputusan tersebut. Bahkan, Menteri Perindustrian Andung A. Nitimihardja, menawarkan salah satu opsi, pemerintah ada kemungkinan akan membuka kembali AAF dengan menutup salah satu dari pabrik pupuk milik PT Pupuk Kalimantan Timur agar AAF bisa beroperasi kembali.

Yura Syahrul - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Jajaki Kerja Sama Energi Dengan Sejumlah Negara
Pemerintah Akui Belum Mencukupi Air Bersih di Daerah Tertinggal
Libya Ajak Indonesia Ikut Tender Blok Migas
Kasus Karaha Bodas Harus Dilihat Secara Proporsional
Kasus Karaha Bodas Dilaporkan Ke KPK
Investor Hanya Minati 12 Blok Migas
Pertamina Akan Menaikkan Cadangan BBM
Presiden Akan Resmikan FPSO Belanak
KPK akan Supervisi Kasus Audit Departemen Energi
WALHI Gugat Newmont
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data