|
pertumbuhan ekonomi
BI: Perlu Kerja Keras untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi
Selasa, 16 November 2004 | 17:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengungkapkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen seperti yang ditargetkan pemerintah harus kerja keras.
“Bisa saja itu dicapai tahun depan, tapi harus dengan kerja keras. Bahkan kerja yang lebih keras lagi,” kata Burhanuddin.
Menurut dia, banyak permasalahan struktural yang masih harus dibereskan di dalam negeri seperti kepastian hukum, masalah sosial ekonomi , korupsi, soal pencucian uang, dan terorisme. Masalah-masalah ini harus segera diselesaikan untuk bisa menarik investasi langsung, baik asing maupun dalam negeri.
BI sendiri mentargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan antara 5 sampai dengan 5,5 persen. “Target pertumbuhan ekonomi 2005 yang realistis adalah 5 persen sampai 5,5 persen itu,” katanya.
BI juga memperkirakan, pertumbuhan pada 2009 akan mencapai 7 persen dan tahun ini sebesar 5 persen. “Ini dengan asumsi pertumbuhan kredit perbankan mencapai 25 persen,” kata Burhanuddin.
Dia menjelaskan, apabila pertumbuhan kredit perbankan mencapai 22 persen per tahun, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai sekitar 5 persen. Tahun ini diperkirakan pertumbuhan kredit mencapai 25 persen, sehingga target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen tahun depan adalah cukup realistis.
Saat ini sumber pembiayaan pembangunan yang bisa diandalkan hanyalah dari likuiditas yang dimiliki perbankan dalam negeri. Saat ini perbankan memiliki kelebihan likuiditas yang disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia dan surat berharga lainnya. “Ini yang diharapkan agar turun menjadi kredit,” katanya.
Menurut Burhanuddin, anggaran pemerintah belum bisa dijadikan pendorong pertumbuhan ekonomi. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan mencapai sekitar 0,8 sampai 1 persen, sehingga untuk mengharapkan APBN sebagai stimulus perekonomian kurang realistis.
Begitu pula berharap masuknya investasi asing langsung, juga kurang realsitis. BI memperkirakan, investasi asing baru masuk pada tahun kedua pemerintahan atau awal 2006.
“Ini juga sepenuhnya tergantung, apakah dalam setahun pertama ini, pemerintah bisa menata rumah (negara) menjadi asri dan enak untuk ditamui,” urainya.
Amal Ihsan - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|