Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

sarana transportasi

Indonesia Wajib Sediakan Dana untuk Sarana Transportasi
Senin, 08 November 2004 | 15:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Indonesia wajib menyediakan dana 26 juta euro (sekitar Rp 303,55 miliar) untuk sarana pengadaan 10 kereta rel listrik (KRL) baru, rehabilitasi KRL lama, serta perbaikan dan pemeliharaan stasiun atau rel KRL di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kewajiban menyediakan dana untuk sarana transportasi ini merupakan bagian dari program pertukaran utang antara pemerintah Jerman dan pemerintah Indonesia.

Pemerintah Jerman bersedia menghapuskan utang Indonesia senilai 52 juta euro (sekitar Rp 607,10 miliar), asalkan pemerintah Indonesia menyediakan dana 26 juta euro atau 50 persen dari utang yang dihapuskan tersebut.

Saat ini mekanisme penukaran utang itu tengah dibahas Kreditanstalt fur Wiederafbau (KfW) atau Bank Pembangunan Jerman kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik, pemerintah Indonesia, pemerintah provonsi DKI Jakarta, dan PT Keretai Api Indonesia (KAI).

Menurut Vice President KfW Norbert Kloppenberg, ke-10 KRL itu akan dibuat di Indonesia, sehingga mempunyai efek ganda bagi upaya penciptaan kesempatan kerja. “Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah ada penandatanganan perjanjian tersebut,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan Mulia P. Nasution menambahkan, program penukaran utang untuk perbaikan sarana transportasi (debt for transportation) ini merupakan program tambahan dari meknisme penukaran utang yang sudah dilakukan sebelumnya.

Total utang Indonesia ke pemerintah Jerman mencapai 1 miliar euro dan total utang yang dihapuskan melalui program pertukaran utang mencapai 73,6 juta euro. Masing-masing pertukaran utang melalui mekanisme penyediaan dana untuk program pendidikan tahap pertama sebesar 25,6 juta dan tahap kedua 23 juta euro, serta pertukaran utang melalui mekanisme penyediaan dana untuk program lingkungan 25 juta euro.

Seperti juga mekanisme pertukaran utang lainnya, pemerintah Indonesia harus menyediakan sejumlah dana yang digunakan untuk membiayai proyek yang disepakati bersama. Sebagai gantinya, pemerintah Jerman akan menghapuskan utang luar negeri Indonesia melalui bilateral official development assistant (ODA) sebesar dua kali lipat dari jumlah dana rupiah yang dibelanjakan untuk proyek

Sementara itu, menurut Direktur Kantor Perwakilan KfW Indonesia Jens Clausen, program pertukaran utang untuk perbaikan sarana transportasi umum Jabodetabek ini diperlukan sebagai salah satu solusi mengatasi masalah urbanisasi di Jakarta dan sekitarnya.

Saat ini wilayah Jabodetabek mencakup populasi yang cukup besar, yakni sebesar 21 juta jiwa. Pada 2015 nanti wilayah ini diperkirakan akan mencapai jumlah 32 juta jiwa, sehingga diperlukan sarana transportasi umum yang baik untuk memenuhi tuntutan komuter penduduk Jakarta dan sekitarnya. “Padahal, saat ini kondisi transportasi yang ada tidak bisa dikatakan baik,” kata Clausenn.

Indonesia sampai saat ini masih menggunakan rel kereta yang digunakan pada jaman penjajahan Belanda. Bahkan, sebagian kereta yang ada masih menggunakan kereta bantuan pemerintah Jerman 30 tahun yang lalu. “Jadi, jelas diperlukan perbaikan dan rehabilitasi dari sarana layanan kereta yang ada,” katanya.

Menurut Clausen, Indonesia juga memerlukan transportasi umum yang efisien dan ramah lingkungan untuk mengatasi pertumbuhan kendaraan pribadi yang menjadi sumber utama kemacetan lalu lintas.

Karena itu, dia berharap, dengan adanya pertukaran utang untuk sarana transportasi ini akan tercipta pelayanan KRL yang profesional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Juga terjadinya peningkatan profesionalisme pengoperasian pelayanan kereta.

“Salah satu caranya adalah dengan memisahkan pengoperasian pelayanan kereta api Jabodetabek dari pelayanan umum transportasi menjadi pelayanan yang berbasis komersial,” ujarnya.

Amal Ihsan - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Jerman Hapuskan Utang Indonesia
Volume Penumpang Kereta Api Naik Enam Persen
Ribuan Pemudik Padati Stasiun Senen
Ekstra Angkutan Lebaran, Merpati Buka Jalur Jakarta-Cilacap
Arus Mudik Mulai Meningkat di Dua Terminal Utama
Presiden Akan Sidak ke Terminal dan Stasiun
Defisit Anggaran Sampai Oktober Rp 2,7 triliun
Jalan Lintas Barat Lampung Longsor
Pemerintah Anggarkan Rp 40,1 Triliun untuk Dana Alokasi Khusus
Hari Ini Tiket Multitrip Busway Dipasarkan
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan

Website

PT Kereta Api Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

DPRD Siantar BerhentikanWali Kota dan Wakilnya
Taksi Terbakar di Jalan MT Haryono
Presiden Diminta Beri Sanksi Heru Lelono
Selasar Sunaryo Gelar 'A Decade Of Dedication'
Penyidikan Korupsi PT Telkom Senilai Rp 110 Miliar Terancam Macet

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data