|
Ekonomi Bisnis
Indonesia Peringkat Keempat Pembajak Piranti Lunak
Kamis, 14 Oktober 2004 | 21:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia tahun lalu kembali menduduki peringkat keempat, setelah Cina, Vietnam, dan Ukraina dari 20 negara di dunia dalam hal pembajakan piranti lunak. Posisi ini tidak berubah, karena Indonesia pada 2002 juga menduduki peringkat yang sama.
Studi Business Software Alliance (BSA) dan International Data Corporation (IDC) menunjukkan, pembajakan piranti lunak komputer di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia dengan tingkat pembajakan mencapai 88 persen.
“Artinya, dalam setiap 100 piranti lunak, 88 di antaranya menggunakan piranti lunak tidak berlisensi (bajakan),” kata Direktur Pemasaran Asia BSA Roland Chan di Jakarta, Kamis (14/10).
Akibat pembajakan itu, Indonesia mengalami kerugian finansial US$ 157 juta. “Itu belum termasuk nilai kerugian yang ditanggung perusahaan piranti lunak pusat,” katanya.
Survei juga menyebutkan, meskipun tingkat pembajakan di kawasan Asia Pasifik cederung lebih rendah dari kawasan lainnya, tingkat pembajakan di Vietnam, Cina, dan Indonesia termasuk yang tertinggi dibanding negara dari kawasan lain.
Menurut IDC, yang melakukan survei ke pasar-pasar piranti keras dan lunak di 65 negara, ada berbagai macam faktor mengapa sampai terjadi pembajakan. Ada yang karena mahalnya harga piranti lunak, sementara pendapatan masyarakatnya cekak. Ada yang berkaitan dengan masalah perbedaan budaya.
Di Indonesia, kata Chan, tingginya tingkat pembajakan piranti lunak lebih disebabkan rendahnya kesadaran perusahaan pengguna piranti lunak, baik tentang Undang-Undang Hak Cipta maupun tentang pentingnya menggunakan piranti lunak asli (berlisensi).
Rina Rachmawati/Grace S. Gandhi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|