|
Ekonomi dan Bisnis
Asosiasi Produsen Makanan Tak Akan Naikkan Harga
Minggu, 13 Juni 2004 | 14:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Asosiasi Produsen Makanan dan Minuman tidak akan mengeluarkan kebijakan menaikkan harga berkaitan makin melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika. "Tidak bisa menyatakan naik. Asosiasi kan bukan kartel," kata Direktur Eksekutif Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Thomas Dharmawan kepada Tempo News Room saat dihubungi lewat telepon, Minggu (13/6).
Menurutnya jika ada kenaikkan harga makanan dan minuman, hal itu tergantung dari kekuatan industri yang bersangkutan dan bukan karena ada pernyataan dari asosiasi. "Sampai sekarang belum ada kenaikkan secara serentak," kata Thomas. Dia mengatakan kenaikkan harga hanya terjadi pada beberapa bahan makanan dan minuman. "Itu juga karena sudah diumumkan dari dahulu. Misalnya terigu," katanya.
Thomas memprediksikan, jika nilai rupiah terus bertengger di atas angka Rp 9.000 per dolar, industri-industri makanan dan minuman akan menaikkan harga. "Mungkin pertengahan Juni ini atau awal Juli," katanya. Produk yang akan mengalami kenaikan, lanjut dia, adalah produk yang bahan bakunya impor.
Dia menjelaskan, ada tiga faktor yang akan membuat harga makanan dan minuman naik berkaitan dengan barang-barang impor tadi. Pertama kenaikan nilai tukar mata uang. Kedua harga bahan baku di pasaran internasional. Dan ketiga harga minyak di pasaran dunia. "Jika salah satunya naik maka barang produksi juga akan naik," jelas Thomas.
Selain itu, kata Thomas, kenaikan tadi juga tergantung dari supply dan demand. Menurutnya kenaikan saat ini juga lantaran terjadinya peningkatan permintaan dari pasar. "Saya juga melihat tingginya permintaan pasar yang mengakibatkan naiknya harga bukan disebabkan adanya rush karena khawatir makin melemahnya rupiah tetapi karena akan dilaksanakannya pilihan presiden," kata dia. Pemilihan presiden, lanjut dia, membuat daya beli masarakat meningkat karena meningkatnya kebutuhan akan konsumsi. "Paling tidak sampai 5 Juli mendatang," katanya.
Thomas mengatakan yang akan mengalami kenaikkan, pertama adalah makanan atau minuman dengan bahan yang 100 persen impor seperti buah-buahan. Kedua, industri yang bahan bakunya impor seperti susu kedelai. "Tetapi kenaikannya tidak secara otomatis," katanya. Ini, jelasnya, karena industri tadi bisa jadi masih mempunyai bahan baku yang tersimpan. Dan yang ketiga industri yang bahan bakunya dari dalam negeri. "Ini belum ada kenaikkan," ujarnya. Dia mencontohkan bahan yang akan naik seperti susu, gula, garam, dan kacang tanah yang hampir 50 persen lebih diimpor.
Dalam menaikkan harga di pasaran, Thomas mengatakan, industri-industri makanan dan minuman tadi akan melihat beberapa hal. Antara lain apakah pesaingnya menaikkan harga atau tidak, barang-barang impor yang produksinya sama apakah naik, serta daya beli masrakat. "Jadi tidak asal menaikkan harga. Seperti beberapa produk yang naik memang untuk golongan kelas menengah ke atas," kata Thomas.
Muchamad Nafi – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|