|
Ekonomi Bisnis
Standarisasi Komponen Otomotif Diperlukan
27 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan menyatakan perlu adanya standar untuk komponen otomotif dalam negeri. Apalagi saat ini pasar produk komponen otomotif dalam negeri banyak dibanjiri produk impor, sedangkan porsi komponen lokal masih terbatas.
"Standarisasi tetap harus dibuat, paling tidak untuk produk yang dilempar ke pasar dalam negeri. Tidak bisa kita terapkan standar itu untuk produk yang diekspor," kata Dirjen Industri Dagang Kecil dan Menengah, Agus Tjahajana kepada wartawan seusai acara temu bisnis dan pemaparan industri komponen otomotif di kantornya, Selasa (27/1).
Saat ini, jelas Agus, yang baru dilakukan oleh direktoratnya adalah membantu UKM dengan menyediakan alat uji. Ia mencontohkan untuk tahun ini pihaknya sudah mencoba membuat alat uji untuk bamper. "Kami membantu, sebab pengadaan alat uji mahal," kata dia.
Namun, meskipun standar diperlukan di tengah derasnya produk komponen impor yang masuk ke Indonesia Agus menyatakan belum perlu membuat standar nasional Indonesia (SNI) untuk produk komponen. "SNI sejauh ini tidak perlu, lebih baik pakai standar internasional," kata dia. Tahap-tahap penyiapan SNI, menurut Agus membutuhkan waktu yang lama, jadi lebih baik mengadopsi standar internasional yang bisa langsung diterapkan. Meski begitu, perlu ada pengaturan lebih lanjut agar tidak terjadi diskriminisasi pada UKM tertentu.
Ketika disinggung mengenai kesiapan UKM, Agus mengatakan semuanya ini bisa berlangsung sambil jalan, karena mereka tidak lepas dari binaan Departemen Perindustrian. "Ini merupakan bagian dari konsep pembinaan UKM yang memang tidak pernah selesai," kata dia. Prakteknya lagi, standar ini baru akan diterapkan pada industri komponen yang sudah benar-benar siap.
Menurut Agus, kemampuan industri komponen di Indonesia cukup mampu untuk membuat produk komponen otomotif, baik perusahaan modal asing atau modal dalam negeri. Kendalanya, hanyalah kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, kemampuan manajemen mempertahankan dan meningkatkan mutu. "Serta kemampuan mereka menyediakan bahan baku," kata dia menuturkan beberapa kendala yang dihadapi oleh industri komponen lokal.
Mengenai pendanaan, Agus memaparkan, sudah ada beberapa bank yang siap memberikan pendanaan, termasuk PT Astra Mitra Ventura. Selama 12 tahun terakhir, PT Astra sudah membiayai 130 perusahaan industri komponen dengan nilai lebih dari Rp 24 miliar.
Anastasya Andriarti - Tempo News Room
|