|
Ekonomi Bisnis
Pemerintah Siap Tanggung Selisih Harga Gas
13 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah siap menanggung selisih harga gas untuk dalam negeri dengan gas alam cair (LNG) di pasar internasional. Karena, pemerintah menilai pemanfaatan gas untuk dalam negeri memiliki nilai tambah bagi perekonomian.
Kepastian itu diungkapkan oleh Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Iin Arifin Takhyan, di Jakarta, Selasa (13/1). Sebagai konsekuensi atas keputusan itu, pemerintah harus mengeluarkan dana yang lebih besar. "Kami melihatnya bukan sebagai kerugian, tetapi gas untuk domestik akan ada nilai tambah," ujarnya.
Selisih harga gas yang ditanggung pemerintah itu merupakan perbedaan harga gas yang dijual di dalam negeri dengan harga penjualan LNG oleh ExxonMobil ke Jepang, Korea, dan Western Buyer.
Penurunan produksi lapangan Arun, di Aceh, yang dikelola Exxon menyebabkan pasokan gas untuk industri lokal terganggu. Ini dikarenakan Exxon lebih memprioritaskan gas yang ada untuk ekspor daripada dalam negeri, untuk memenuhi kontrak yang telah ditandatangani. Akibatnya pasokan gas ke tiga industri pupuk di Aceh, ASEAN Aceh Fertilizer (AAF), Pupuk Iskandar Muda (PIM)-1, dan PIM-2 yang besarnya mencapai 5 kargo per bulan itu terhenti.
Sidang kabinet telah memutuskan untuk meminta ExxonMobil tetap mensuplai gas ke industri di Aceh. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dalam suratnya kepada Menperindag dan Meneg BUMN menyebutkan bahwa pemerintah meminta ExxonMobil untuk memasok gas ke Aceh sebesar 73-73 standart cubic feed (scf). Namun Exxon meminta harga gas untuk dalam negeri sama dengan harga gas ekspor. Saat ini, harga gas untuk dalam negeri sekitar US$ 1 per scf, sedangkan harga gas untuk ekspor di atas US$ 2 per scf.
Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan gas (BP Migas) Kardaya Warnika, mengatakan bahwa Departemen Keuangan telah setuju untuk menanggung selisih harga tersebut. Besarnya biaya yang ditanggung fluktuatif tergantung harga gas internasional yang dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room
|