Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Realisasi APBN 2003 Hampir Tercapai
09 Januari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2003 hampir tercapai. Hal ini terungkap dalam pengumuman realisasi anggaran di Departemen Keuangan Jakarta, Jumat (9/1) sore.

Menurut Menteri Keuangan Boediono meski target-target itu tidak sepenuhnya tercapai, realisasi anggaran tidak jauh berbeda dibanding rencana yang tertuang dalam APBN Perubahan 2003 yang dibahas pada September silam. "Padahal tahun 2003 penuh peristiwa yang tidak terencanakan," katanya.

Dari beberapa asumsi dasar yang ditetapkan hanya pertumbuhan ekonomi, inflasi dan produksi minyak yang mencapai sasaran. Sementara produk domestik bruto, nilai tukar, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia dan harga minyak meleset sedikit dari target yang direncanakan.

Defisit sesuai dengan target sebesar 1,9 persen dari PDB atau Rp 33,7 triliun. Dalam Rancangan APBN 2003 yang tertuang dalam pidato presiden Agustus 2002 defisit ditetapkan sebesar 1,3 persen atau Rp 26,3 triliun. Angka itu kemudian berubah saat pembahasan bersama DPR menjadi 1,8 persen atau Rp 34,4 triliun. Naiknya angka defisit disebabkan adanya ledakan bom Bali pada 12 Oktober 2002 saat pembahasan APBN sedang berlangsung. Angka itu terus naik saat pembahasan APBN pada September 2003 menjadi 1,9 persen.

Pendapatan negara dan hibah juga tak mencapai target. Pendapatan hanya terealisasi sebesar Rp 341,1 triliun dari target Rp 342,8 triliun meski hibah mengalami kenaikan dari Rp 0,3 triliun menjadi Rp 0,4 triliun. Meski pendapatan meleset dari target, pemerintah bisa menekan pengeluaran anggaran sebesar Rp 2,4 triliun sehingga defisit terealisasi tepat sesuai target. Dari pagu belanja yang ditetapkan sebesar Rp 377,2 triliun, belanja negara tahun kemarin hanya Rp 374,8 triliun. Rendahnya pengeluaran ini disebabkan oleh lebih rendahnya pengeluaran rutin dan pembangunan.

PDB menurun dari Rp 1.791,6 triliun yang tercantum dalam APBN P menjadi Rp 1.756 triliun. Padahal pertumbuhan ekonomi naik dari 4 persen yang diasumsikan menjadi 4,1 persen. Inflasi juga berhasil ditekan dari target semula 6 persen menjadi 5,06 persen.

Hal ini menurut Boediono karena ada penurunan tingkat harga. "Kalau volume barang tetap tapi harga turun otomatis PDB juga menurun," katanya. Pjs Kepala Badan Analisa Fiskal Anggito Abimanyu menambahkan penurunan angka PDB itu disebabkan oleh angka deflatornya yang juga menurun.

Selain turunnya angka PDB, penerimaan pajak juga tidak tercapai. Hingga 31 Desember 2003 lalu pemerintah hanya bisa mengumpulkan penerimaan hingga Rp 241,6 triliun atau 97,2 persen dari yang ditargetkan sebesar Rp 248,5 triliun. Menurut Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo tak tercapainya jumlah penerimaan itu disebabkan adanya penurunan suku bunga yang cukup drastis.

Akibatnya, penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan PPh atas bunga menjadi turun. Cuti bersama selama 10 hari saat Idul Fitri juga menjadi penyebab menurunnya penerimaan pajak yang disebabkan oleh berhentinya aktivitas perbankan, termasuk pembayaran dan setoran penerimaan negara. Libur yang panjang juga menyebabkan terhentinya kegiatan ekspor dan impor sehingga penerimaan bea masuk tidak tercapai. Meski begitu, penerimaan dari PPN, PPn Barang Mewah dan cukai melampaui jumlah yang ditargetkan.

Boediono mengingatkan di balik angka-angka APBN itu, pihaknya akan terus mereformasi sistem keuangan negara yang lebih sehat. Tahun ini Departemen Keuangan akan mereformasi anggaran sejalan dengan reorganisasi departemen yang akan memecah Ditjen Anggaran menjadi Ditjen Perbendaharaan Negara dan Ditjen Perencanaan Keuangan Negara. "Semoga kondisi keuangan yang sehat semakin berakar," katanya.

Selain perbaikan kelembagaan, pemerintah, kata Boediono, akan terus menurunkan rasio utang Indonesia terhadap PDB-nya. Dengan pencapaian realisasi defisit itu, Boediono berharap, diikuti oleh pencapaian defisit tahun 2004 yang kerap disebutnya sebagai tahun ketidakpastian karena ada Pemilihan Umum dan lepasnya Indonesia dari program Dana Moneter Internasional.

Bagja Hidayat - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data