Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

BRTI : Kenaikan Tarif Telepon Dapat Direvisi
07 Januari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ahli Bidang Ekonomi Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Hery Nugroho, mengatakan peningkatan tarif telepon sebesar 45 persen selama tiga tahun berturut-turut yang telah disetujui DPR masih mungkin untuk direvisi.

Walaupun telah disetujui oleh DPR, menurut Hery, kebijakan semacam itu tetap berada di tangan BRTI, karena hal itu menjadi bagian dari fungsi BRTI, yaitu sebagai pengawas, pengatur, dan pengendali regulasi pertelekomunikasian di Indonesia. "Kami berhak untuk mengatakan tidak setuju," katanya.

Menurutnya, permasalahan ketidakseimbangan antara tarif lokal, sambungan langsung internasional (SLI), dan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), sudah terasa sangat mengganjal, yaitu tarif lokal lebih murah dibandingkan biaya operasional yang dikeluarkan, sedangkan tarif interlokal terlalu mahal dibandingkan biaya operasionalnya.

Untuk menghilangkan subsidi silang yang selama ini diberlakukan bagi tarif lokal dan interlokal, kata Hery, harus dilakukan rebalancing tariff (penyeimbangan tarif). Menurutnya, penyeimbangan tarif ini dapat diatasi dengan menghilangkan monopoli.

Seperti diketahui, PT Telkom menguasai jaringan telepon tetap lokal dan SLJJ, sedangkan PT Indosat menguasai jaringan SLI. “Di mana saja, monopoli itu tidak pernah bagus,” katanya saat menjelaskan pentingnya diberlakukan duopoli dalam telekomunikasi Indonesia.

Karena itu, kata Hery, BRTI meminta Telkom dan Indosat untuk mempersiapkan cost structure dari masing-masing perusahaan. “Jadi rebalancing bisa saja jadi turun atau naik dari angka 45 persen. Tergantung cost structure yang disusun oleh operator,” katanya.

Untuk itu, ujar Hery, pihaknya akan melakukan pengawasan ketat terhadap operator yang bersaing. “Duopoli yang saling injek kaki itu kan sama saja dengan monopoli,” tegasnya mengistilahkan kerja sama di balik layar yang sering terjadi di negara ini.

Ia menambahkan, dirinya beserta empat rekannya akan membuat kebijakan yang menitikberatkan pada publik. “Arahnya harus menguntungkan publik,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Hery menjelaskan agenda yang segera akan digarap oleh BRTI, yaitu masalah duopoli, fixed wireless access, rebalancing, interkoneksi, dan standar pelayanan. “Ini merupakan masalah-masalah krusial dalam pertelekomunikasian Indonesia,” katanya.

Listi Fitria - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Seluler Indosat Capai 6 Juta Pelanggan
TelkomFlexi Perluas Jaringan Pada 2004
Telkom Targetkan Pendapatan Naik 20 Persen
Pengguna MMS Diprediksi Meningkat 50 Persen
Telkom Minta Penghapusan Subsidi Telepon Lokal

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data