|
Ekonomi dan Bisnis
Bulog Tunda Impor Beras 2004
06 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengadaan beras impor dari Thailand untuk 2004, diputuskan untuk ditunda. Keputusan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) itu bertujuan untuk mengakomodasi hasil panen raya petani dalam negeri terlebih dahulu. "Kami akan melihat pengadaan beras petani kita dulu," kata Bambang Budi Prasetyo, Direktur Operasional Bulog kepada TNR lewat sambungan telepon, Selasa (6/1).
Tentu saja, keputusan itu bukan berarti meniadakan pengadaan beras impor. Karena, seperti kata Bambang, dari tahun ke tahun Indonesia tetap mengalami defisit beras. "Bahkan defisit tiap bulan. Data dari Departemen Pertanian menyebut, tiap tahunnya Indonesia kekurangan beras sebanyak 2,5 juta ton," katanya. Tidak heran, Bulog berencana mengimpor 400 ribu ton beras dari Thailand: 200 ribu ton pada periode awal Januari-Februari 2004, kemudian 200 ribu ton lagi pada November-Desember 2004.
Bulog memperkirakan, sekitar Agustus-September 2004, kondisi stok beras nasional baru bisa dipastikan. "Saat itulah impor beras baru diputuskan," kata Bambang. Jelas impor tetap ada, hanya waktu yang bergeser. Menurut Direktur Utama Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo, sejak 2002, angka tertinggi impor yang dilakukan Bulog mencapai 700 ribu ton tiap tahunnya. Beras impor itu kemudian dialokasikan untuk beras masyarakat miskin (raskin) yang dijual Rp. 1.000 per kilo. Tapi, kebenaran alokasi itu layak diuji. Pasalnya, berdasarkan pengamatan TNR di gudang Bulog Kelapa Gading pada akhir tahun lalu, tampak tumpukan beras impor dari beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat masih meninggi. Bahkan, diantaranya sudah ada yang membusuk karena terlalu lama disimpan.
Impor beras yang akan dilakukan Bulog di tahun ini, rencananya memakai skema counter trade dengan Thailand: beras yang diimpor akan ditukar dengan 300 unit gerbong kereta api dari PT. INKA, pupuk, dan satu pesawat terbang berbadan lebar dari PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI). Berapa jumlah beras yang sepadan dengan pertukaran itu, itu yang belum diputuskan.
Anastasya Andriarti - Tempo News Room
|