Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Deptan Menahan Laju Konversi Lahan Pertanian
23 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Pertanian akan menahan laju konversi lahan pertanian yang cenderung mengalami penyusutan dari tahun ke tahun dengan program "zero konversi".

“Bila ini terjadi terus-menerus Indonesia akan menjadi importir terbesar di dunia,” kata Jafar Habsah, Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, pada seminar "Alih Fungsi dan Konversi Lahan" hari ini (23/12) di Jakarta.

Pada tahun 1997 luas lahan sawah kurang lebih 8,5 juta hektare, sedangkan tahun 2000 luasnya menurun menjadi 7,8 juta hektare, sehingga dalam waktu tiga tahun telah terjadi penyusutan 0,7 hektare atau rata-rata 230 ribu hektare per tahun. Saat ini luas lahan pertanian hanya 11 juta hektare dan telah menyusut lagi menjadi 10.000.500 hektare.

Salah satu solusi jangka pendek ke depan dalam menyikapi alih fungsi lahan, kata Jafar, melalui upaya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) yang dapat meningkatkan luas tanam, panen, dan produksi di berbagai tipe ekologi lahan.

Menurut Jafar, salah satu strategi yang ditempuh dalam upaya mendukung peningkatan produksi tanaman pangan adalah dengan memperluas areal pangan dengan optimalisasi potensi sumber daya lahan melaui ikatan kegiatan Optimalisasi Pemanfaatan Lahan (OPL), Rehabilitasi dan Konservasi Lahan (RKL), Penambhan Baku Lahan (PBL), serta pengembangan kantong penyangga padi di lahan rawa lebak.

Diperkirakan alih fungsi lahan pertanian potensial ke sektor nonpertanian rata-rata mencapai kurang lebih 47 ribu hektare per tahun dan sebagian besar terjadi di Pulau Jawa, yaitu sekitar 43 ribu hektare per tahun. Hal ini karena pesatnya laju pembangunan di sektor sarana permukiman.

“Kami tidak mencetak sawah karena susah untuk membuat sarana irigasinya,” kata Jafar menyikapi kurangnya lahan pertanian. Tapi, menurutnya, akan diupayakan lahan yang bisa untuk pertanian, perkebunan, maupun kehutanan.

Menurut M. Odjak Siagian, Ketua Sadagori Water Shed Management Nature Farming, konversi lahan tidak dapat dicegah, tetapi negara harus memperluas lahan pertanian. Salah satu solusinya adalah menciptakan pertanian lahan kering yang airnya didapat dari hujan dengan dua kali masa tanam.

Keunggulan lain adalah komoditi yang dihasilkan beraneka macam, petani lebih dinamis dan kreatif dalam mengolah lahan, dan mempergunakan pupuk organik dengan hasil yang jauh lebih tinggi.

Maria Ulfah - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Provinsi Belum Kembalikan Dana Talangan Departemen Pertanian
Petani akan Ikut Miliki Pabrik Gula
Deptan Keluarkan SK Varietas Dua Kacang Tanah
Menteri Ingatkan Fungsi Utama Badan Karantina
Produk Hortikultura Indonesia Terancam Ditolak Taiwan

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data