|
Ekonomi Bisnis
Rini Minta Pengusaha Tekstil Benahi Industrinya
22 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi meminta para pengusaha tekstil membenahi industrinya selama 2004, sebelum dihapusnya kuota ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke negara-negara maju pada Januari 2005.
Rini menilai ada pasar potensial yang dapat dibidik, yakni penggunaan bahan poliester atau sutera, rayon, dan rami. "Jadi kita harus konsentrasi pada bahan baku yang memang dimiliki kita sendiri," kata Rini usai peringatan Hari Ibu di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/12).
Selain mengkonsentrasikan pada bahan tertentu, Rini juga mengusulkan agar produk garmen dalam negeri menggunakan manik-manik. Menurut dia, penggunaan bahan tersebut dapat menambah nilai seni yang tinggi. Dia yakin hal itu akan sangat diminati kalangan internasional.
Rini mengatakan tidak masanya lagi industri tekstil atau garmen dibangun atas dasar upah buruh yang rendah. Pasalnya, industri dalam negeri itu akan kalah bersaing dengan Bangladesh dan Vietnam yang menawarkan upah buruh lebih rendah.
Ditanya soal crash program yang ditawarkan pemerintah, Rini mengelak. Menurut dia, perihal penghapusan kuota itu sudah diketahui pengusaha sejak 10 tahun yang silam. Pada 18 bulan yang lalu, dia mengaku sudah mengajak pengusaha memikirkan program bersama, apakah itu dalam bentuk promosi atau riset, pasca dihapusnya kuota ekspor TPT. "Jadi mereka ini meminta crash program apa," kata dia balik bertanya.
Lebih lanjut, Rini mengatakan pemerintah bersedia menjadi fasilitator bagi para pengusaha industri TPT itu. Akan tetapi, "Pemain utamanya adalah para pengusaha," kata dia.
Deddy Sinaga - Tempo News Room
|